Kagungan Dalem

Beksan Ajisaka

280 | Senin, 01 Februari 2021 admin

Beksan Ajisaka merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10. Beksan ini merupakan Beksan Kakung (tari putra) pertama yang diciptakan sejak beliau bertakhta. Tari ini diilhami dari Serat Ajisaka yang ditulis sendiri oleh Ngarsa Dalem sebagai esensi pemaknaan dibalik aksara Jawa (Ha Na Ca Ra Ka, dst). Aksara Jawa yang sarat makna ajaran luhur selanjutnya dijadikan edukasi jati diri manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna. Disamping itu juga dijadikan penanda atas peristiwa masa lalu sebagai refleksi untuk saat ini dan masa yang akan datang. Pertunjukan perdana Beksan Ajisaka digelar oleh KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta pada 5 Desember 2020 dalam Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran.

Beksan Ajisaka diperagakan oleh 10 penari putra; 8 penari sebagai wadya (punggawa) dan 2 penari sebagai tokoh Ajisaka. Delapan penari punggawa berawal dari konsep beksan sekawanan (4 penari putra) namun dibawakan dalam dua pasang. Dua penari yang berperan sebagai Ajisaka merepresentasikan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan.


Makna Beksan Ajisaka

Ajisaka dikenal sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal lahirnya aksara Jawa. Dalam legenda, Ajisaka memiliki dua orang abdi bernama Dora dan Sembada. Kedua abdi kinasih tersebut diberi amanah oleh Ajisaka untuk menjaga keris pusaka. Kedua abdi tersebut menyimbolkan ketaatan dan tanggung jawab dalam mengemban tugas.

Dalam naskah Serat Ajisaka yang ditulis sendiri oleh Ngarsa Dalem, Aji berarti raja atau ratu, sementara Saka berarti wewatoning (hukum peraturan) raja atau ratu. Untuk mewujudkan kedua makna tersebut, sosok pemimpin harus mampu mengamalkan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan manusia dengan sesama). Sesuai dengan Dzat Allah di muka bumi, manusia tetap harus ikhtiar “Kun Fayakun”, sebagai niat awal karena Allah, dalam mengarungi tantangan kehidupan. Pancaran “Kun Fayakun”, tidak hanya menciptakan bumi seisinya, tetapi keberadaannya selalu mengasihi, memberi arah tujuan terhadap semua yang terjadi. Dunia seisinya tidak sembarangan diciptakan, tetapi memiliki keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti.

Gagasan Ajisaka menciptakan huruf Jawa; Ha Na Ca Ra Ka – Da Ta Sa Wa La – Pa Dha Ja Ya Nya – Ma Ga Ba Tha Nga, memiliki makna sebagai untaian doa dan harapan untuk keselamatan umat manusia. Doa dan harapan itu terwujud dengan keinginan yang bulat dalam diri manusia dengan dilandasi tekad, keteguhan, dan ketertiban. Namun manusia juga memiliki keterbatasan, ada kalanya manusia sakit dan pada saatnya akan mati. Semua itu dapat terbaca jika manusia mengingat tanda-tanda alam yang terjadi. Manusia dapat melihat, mencari, meyakini, dan berani menghadapi kenyataan yang diberikan Allah. Maka dari itu akan terlihat jika dinamika di dunia juga merupakan dinamika manusia. Sehingga di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, jika Allah menghendaki.


Komposisi Tari

Pagelaran Beksan Ajisaka disajikan dalam tiga bagian, meliputi maju beksa, inti beksa, dan mundur beksa. Maju beksa bercerita tentang kesiapan diri Ajisaka yang hendak memulai laku untuk mewujudkan cita-cita luhur sebagai penuntun hidup manusia. Inti beksa menguraikan berbagai tantangan, hambatan dan cobaan hidup, namun semua itu dapat diatasi dengan dasar keimanan, keadilan, welas asih, keikhlasan, kelantipan, dan tekad rasa sawiji, greget, sengguh, serta ora mingkuh. Mundur beksa mengungkapkan rasa syukur dan harapan agar ajaran luhur dapat dipahami oleh masyarakat. Sudah kodrat manusia menjadi khalifah dan mengagungkan AsmaNya.

Tarian gagah ini menggunakan ragam gerak kambeng, bapang, tayungan, engkrang gantung, dan kipat gajahan. Selain itu juga terdapat ragam gerak gubahan baru, yakni sidhangan seling menjangan ranggah ukel asta dan sidhangan seling kinantang.

Ragam gerak sidhangan dimaknai sebagai sikap berdoa atau harapan yang dilakukan seperti tokoh wayang ketika bersemedi dengan menyampirkan sondher di pundak. Ketika gerak itu diselingi dengan menjangan ranggah ukel asta, maknanya menjadi lebih kuat. Dalam kehidupan doa dijadikan keyakinan yang terus diulang, diingat, dan dilakukan dengan penuh penghayatan melalui olah pikir dan olah rasa. Sementara gerak seling kinantang dimaknai menghadapi tantangan dengan sikap sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh agar tujuan tercapai.


Busana Penari

Busana penari Beksan Ajisaka terinspirasi dari busana yang dahulu dikenakan para pangeran dan bupati dalam acara kenegaraan atau upacara ritual di Keraton Yogyakarta. Penari punggawa mengenakan celana cindhe, kain kampuh parang barong, kain sondher putih, kalung penanggalan, kelat bahu ngangrangan, kamus timang, keris, buntal serta penutup kepala (irah-irahan) kuluk putih (pethak) berhias gelung, sisir pethat, dan borokan mlathi. Sedangkan penari Ajisaka mengenakan celana cindhe, kain kampuh parang barong, kain sondher putih, kalung sungsun, kelat bahu candrakirana, kamus timang, keris, dan buntal serta penutup kepala (irah-irahan) kuluk kanigara hitam berhias lis emas, gelung, sisir pethat, dan sumping ron oncen sritaman.

Komposisi Gendhing

Komposisi gendhing yang digunakan untuk mengiringi pementasan Beksan Ajisaka meliputi:

Ha. Lagon Jugag Pelog Lima,

Na. Ladrang Gati Narpa Cundhaka Pelog Lima, Sekar Gambuh Gangsal Pelog Lima,

Ca. Ladrang Gangsaran Ajisaka Pelog Lima,

Ra. Rambatan-Monggang-Seseg Ngracik,

Ka. Ladrang Caraka Pelog Nem,

Da. Dados Gangsaran Pelog Nem,

Ta. Suwuk-Singiran-Kemanakan,

Sa. Ladrang Muryani Busana,

Wa. Mlebet Carabalen Pelog Barang,

La. Bawa Swara Sekar Tengahan Kulante Pelog Barang,

Pa. Ketawang Ajisaka Pelog Barang,

Dha. Perang Antal-Ganjur Pelog Barang,

Ja. Perang Seseg-Ganjur Pelog Barang,

Ya. Dados-Ladrang Pamuksa Pelog Barang,

Nya. Lagon Jugag Pelog Barang,

Ma. Ladrang Gati Wasana Pelog Barang,

Ga. Lagon Jugag Pelog Barang.

Gendhing-gendhing tersebut dibawakan dengan seperangkat gamelan pelog dan tambahan instrumen musik barat. Instrumen musik barat yang digunakan antara lain trompet, trombon, saksofon, tambur, dan piatti. Instrumen tersebut dimainkan untuk mengiringi Gendhing Gati Narpa Cundhaka, Gangsaran Ajisaka, Rambatan-Monggang-Seseg Ngracik, Caraka, Dados Gangsaran, Ketawang Ajisaka, Perang Antal, Perang Seseg, dan Gati Wasana.

Beksan Ajisaka karya Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10 hendaknya dapat dicatat sebagai satu pembaruan sejarah dalam dunia tari klasik putra gaya Yogyakarta. Cerita Ajisaka dalam tarian dikemas sesuai dengan konteks masa kini. Aksara Jawa diolah menjadi sarana edukasi yang memuat siklus kehidupan dan nilai kemanusiaan yang universal. Beksan ini menggambarkan perjalanan hidup manusia yang selaras dengan sangkan paraning dumadi.


Daftar Pustaka
Booklet ‘Ajisaka: Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10’ dalam Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa. Yogyakarta, 5 Desember 2020.
Wawancara dengan Dr. KRT Condrowasesa pada 16 November 2020
Wawancara dengan KRT Suryo Amiseno pada 16 November 2020
Wawancara dengan RW Widodo Mondro pada 16 November 2020
Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 16 November 2020
(1,9 MB)
Kandha, Pocapan dan Lampahing Beksa Beksan Ajisaka
Unduh PDF

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN