Info Terkini

Pawiyatan Abdi Dalem Angkatan ke-17 Resmi Ditutup

515 | Senin, 05 Juni 2017 admin KRT Yudahadiningrat menyerahkan partisara ke peserta pawiyatan

KRT Yudahadiningrat menyerahkan partisara ke peserta pawiyatan

Pada hari Kamis, 31 Mei lalu, Pawiyatan Abdi Dalem Angkatan ke-17 resmi ditutup. Peserta Pawiyatan Abdi Dalem adalah Abdi Dalem Punakawan dan Abdi Dalem Keprajan. Setiap pawiyatan memiliki 60 peserta. Pada tahun 2017 ini, pawiyatan diselenggarakan enam kali dalam satu tahun dan terdiri dari 8 pertemuan dalam 4 minggu. Pertemuan tersebut diadakan setiap hari Senin dan Kamis agar para Abdi Dalem masih bisa bekerja di hari lainnya.

Pawiyatan Abdi Dalem merupakan kegiatan yang dilaksanakan sejak tahun 2011. Pawiyatan ini diinisiasi oleh Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 yang melihat pentingnya pengembangan sumber daya manusia di dalam keraton.

“Para Abdi Dalem harus mempunyai pemahaman yang sama dan utuh tentang keraton,” ujar KRT Rintaiswara, salah seorang pemucal (pengajar) pawiyatan. Materi yang disampaikan dalam pawiyatan adalah uraian dari filosofi keraton, yaitu "Sangkan Paraning Dumadi", "Manunggaling Kawula Gusti', "Hamemayu Hayuning Bawana", dan watak kesatria. Selain itu juga terdapat materi mengenai pusaka, pedhalangan, tata krama, seni macapat, bahasa bagongan, batik, tari klasik gaya Yogya, dan pertanahan.

Setelah memenuhi syarat kelulusan, yaitu kehadiran penuh dalam pawiyatan, para peserta akan mendapatkan ijazah yang disebut dengan partisara. Partisara ini menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat bagi para Abdi Dalem. Setelah semua Abdi Dalem mendapatkan pemahaman dasar dalam Pawiyatan Abdi Dalem, keraton berencana membuat pawiyatan lanjutan. Pawiyatan lanjutan ini diperlukan agar pemahaman Abdi Dalem tentang keraton lebih mendalam lagi.

Meskipun utamanya ditujukan bagi sumber daya manusia di dalam keraton, pawiyatan ini juga dapat diikuti oleh pihak luar keraton. Calon peserta dari luar keraton dapat mengajukan surat permohonan terlebih dahulu. “Syaratnya adalah tetap harus mengikuti aturan, yaitu mengenakan baju peranakan untuk laki-laki atau kebaya hitam untuk perempuan, serta duduk di bawah dan bersila, karena lokasi pawiyatan berada di dalam keraton,” ujar KRT Rintaiswara.

TATA PEMERINTAHAN