Ragam

Nyi ML Hamong Harjomulyo Sarjoyo, Cermin Perempuan Indonesia di Keraton Yogyakarta

1133 | Senin, 23 April 2018 admin Mela dan Nyi Mas Lurah Hamong Harjomulyo Sarjoyo

Mela dan Nyi Mas Lurah Hamong Harjomulyo Sarjoyo

Sama seperti pekerja di bidang lain, Abdi Dalem keraton seringkali harus mengkompromikan tugas mencari nafkah dan mengurus keluarga. Tak heran beberapa Abdi Dalem kerap membawa anak atau cucu mereka saat bertugas. Keraton yang menghargai nilai-nilai keluarga dan memperhatikan kesejahteraan Abdi Dalem-nya tidak mempermasalahkan hal ini selama tak ada tata krama yang dilanggar.

Nyi Mas Lurah Hamong Harjomulyo Sarjoyo atau biasa dipanggil Bu Tutik, karena nama aslinya adalah Semi Astuti, adalah salah satu Abdi Dalem yang sering membawa anaknya bertugas di keraton. Mela, putri kecilnya, menjadi sumber kelucuan dan keceriaan di lingkungan kerja ibunya. Gadis cilik berusia delapan tahun ini tak pernah rewel bila mengikuti sang bunda bekerja. Malah sebaliknya, bila libur sekolah tiba, ia tak sabar meminta ibunya agar diajak ke keraton. Rupanya bocah ini sangat menikmati suasana keraton yang tenang dan menyenangkan.

Abdi Dalem Keparak

Bu Tutik mengabdi di bagian Keparak (keputrian) sejak sekitar tahun 1990. “Saya diajak teman saya yang sudah menjadi Abdi Dalem Keparak. Kami sering bertemu di pasar Prambanan,” kenangnya. Saat itu Bu Tutik memang berjualan penganan basah di pasar tersebut. Berjualan ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena dua dari tiga anaknya sudah beranjak remaja dan semakin membutuhkan biaya. Penghasilan suaminya sebagai guru SD dirasa tidak mencukupi lagi.

Bu Tutik mengiyakan ajakan temannya. Setelah itu ia mesti membagi waktu antara berjualan dan bekerja di keraton. Dengan jauhnya jarak dari rumah di Berbah, pasar di Prambanan, dan keraton di pusat kota, Bu Tutik tentu saja kerepotan. Apalagi Mela, anak bungsunya, masih bayi waktu itu.

“Akhirnya saya lepas pekerjaan saya di pasar,” ujarnya, “daripada para pelanggan tak terlayani dengan baik dan akhirnya berkurang.”

Melepas dan mencari pekerjaan demi keluarga bukan pertama kali ini dialaminya. Sebelum menikah Bu Tutik bekerja di sebuah SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). Namun setelah menikah dan anak-anaknya lahir, ia dengan legawa (ikhlas) berhenti bekerja untuk mengasuh anak-anaknya.

Berkah Keraton

Bu Tutik mengakui ia menjadi Abdi Dalem untuk mendapat ketentraman lahir batin yang ia yakini sebagai berkah dari mengabdi di keraton. “Nyatanya apa yang saya inginkan tercapai. Dua anak saya sudah bekerja. Itulah berkahnya.” Batinnya juga lebih tenang dan lebih legawa. “Saya jadi mudah bersyukur dan tidak pernah berpikir macam-macam.”

Kini Bu Tutik fokus mengasuh Mela kecil. “Sejak usia 1,5 tahun, dia sudah sering ikut saya bekerja di keraton.”

Awalnya Bu Tutik kurang fokus dan sering tidak masuk kerja karena harus membagi waktu antara mengasuh anak dan bertugas di keraton. Bu Kanjeng, atasannya di Keparak, menyarankan agar Mela dibawa ke keraton agar pikiran Bu Tutik tenang.

Bu Tutik sangat gembira mendengarnya. Dengan mengajak Mela ia bisa bekerja dua hari, dua malam berturut-turut, sesuai dengan jadwal kerja Abdi Dalem Keparak, yaitu 2 X 24 jam tiap minggunya.

“Sekarang karena Mela sudah bersekolah, ia hanya ikut pada hari libur. Setiap libur, ia minta ikut saya ke keraton,” ujarnya.

Dengan mengajak putrinya ke keraton, Bu Tutik berharap sang anak tumbuh dengan mengerti tata krama, unggah-ungguh dan suba sita. Bu Tutik adalah cermin banyak perempuan di Indonesia yang dapat menjalani berbagai peran dalam masyarakat; sebagai istri, ibu, pekerja, dan peran-peran lainnya.

Bu Tutik dan Mela

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN