Regalia


Benda-benda pusaka atau regalia yang mengiringi Sri Sultan pada saat miyos atau berjalan keluar untuk menghadiri upacara-upacara besar di keraton disebut Kanjeng Kyai Upacara. Upacara besar dimaksud adalah Jumenengan Dalem atau penobatan. Selain itu, pada jaman dahulu, Kanjeng Kyai Upacara juga dikeluarkan pada saat Upacara Garebeg. Bukan sekedar alat kelengkapan upacara, Kanjeng Kyai Upacara merupakan simbol karakter atau watak yang harus tercermin dalam diri Sultan dan juga para pemimpin masyarakat pada umumnya. Benda-benda pusaka atau regalia tersebut adalah:
  1. Banyak (Angsa) melambangkan kewaspadaan dan kesucian
  2. Dhalang (Kijang) melambangkan kegesitan dan cepat mengambil keputusan.
  3. Sawung (Ayam Jantan) melambangkan keberanian
  4. Galing (Merak) melambangkan kewibawaan atau keindahan
  5. Hardawalika (Naga) melambangkan kekuatan dan tanggung jawab
  6. Kutuk (Kotak Uang) melambangkan kedermawanan
  7. Kacu Mas (Saputangan) melambangkan sikap pemaaf
  8. Kandil (Lampu Minyak) melambangkan pencerahan

Yang membawa benda-benda pusaka tersebut adalah para gadis yang disebut dengan istilah Manggung. Para Manggung biasanya merupakan kerabat dekat Sultan yang disebut dengan istilah Sentana Dalem. Terdapat delapan Manggung yang masing-masing bertugas membawa benda-benda pusaka di atas. Mereka berjalan berjajar berirringan di depan Sri Sultan pada saat miyos dari Dalem Ageng Prabayeksa menuju Sitihinggil Lor. Sementara itu, terdapat dua Manggung yang berjalan di belakang Sri Sultan untuk membawa benda pusaka lainnya yang berupa Kecohan (tempat meludah) dan Wadah Ses (tempat rokok). Dengan demikian terdapat total sepuluh Manggung yang bertugas mengiringi Sri Sultan pada saat digelar suatu upacara besar.

Semua benda-benda upacara yang dibawa oleh Manggung terbuat dari emas. Selain sepuluh benda di atas, terdapat satu lagi benda yang terbuat dari emas dinamakan Cepuri. Cepuri, Wadah Ganten atau Pekinangan merupakan tempat segala peralatan makan sirih. Pada setiap upacara besar, Cepuri akan dibawa oleh Abdi Dalem Keparak Para Gusti. Baik Cepuri maupun Kecohan mempunyai makna sebagai berikut:


  1. Kecohan (Tempat meludah) melambangkan kehati-hatian dalam bertutur
  2. Cepuri (Tempat segala keperluan makan sirih) melambang kesiap-siagaan
Para Manggung membawa Kanjeng Kyai Upacara
Para Manggung membawa Kanjeng Kyai Upacara

TATA PEMERINTAHAN