Tata Rakiting Wewangunan

Alun-Alun Yogyakarta

17117 | Selasa, 04 September 2018 admin Alun-alun Selatan

Alun-alun Selatan

Semenjak jaman Majapahit, keberadaan alun-alun dalam ruang lingkup kerajaan selalu dipertahankan. Alun-alun adalah manifestasi ruang publik, menjadi bagian tak terpisahkan dari tata ruang ibukota kerajaan. Konsep ini kemudian diadaptasi oleh kota-kota di Indonesia, di mana sebuah ruang terbuka disediakan tepat di depan pusat pemerintahan.

Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Yogyakarta, mahir dalam ilmu filsafat maupun arsitektur. Gabungan dari keahlian-keahlian beliau inilah yang mewarnai struktur tata ruang Kasultanan Yogyakarta dengan simbol-simbol penuh makna.

Keraton Yogyakarta maupun bangunan-bangunan pendukungnya ditempatkan pada sebuah rangkaian pola, yang didasarkan pada sumbu filosofis, garis imajiner yang membentang lurus antara Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak. Termasuk diantaranya dua alun-alun yang dimiliki oleh keraton, Alun-Alun Selatan dan Alun-Alun Utara.

Alun-Alun Selatan

Alun-Alun Selatan

Alun-alun Selatan juga dikenal dengan nama Alun-Alun Pengkeran (Alun-Alun Belakang). Letaknya masih berada di dalam benteng keraton, di tengahnya ditanam dua buah pohon beringin. Beringin ini dinamakan supit urang dan diberi pagar keliling sehingga juga dikenal sebagai Ringin Kurung. Pagar yang mengelilingi dua batang pohon ini diberi ornamen berupa bulatan dan bentuk-bentuk busur. Sedang di bagian pinggirnya terdapat