Hajad Dalem

Hajad Dalem Labuhan

988 | Senin, 08 Mei 2017 admin Upacara Labuhan Parangkusumo di Era Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Upacara Labuhan Parangkusumo di Era Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Labuhan berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Maksud dari labuhan ini adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. Pada pelaksanaannya, Keraton Yogyakarta melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Uborampe labuhan yang akan dilabuh di tempat-tempat tertentu atau yang disebut petilasan, beberapa diantaranya merupakan benda-benda milik Sultan yang bertahta.

Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hajad Dalem Labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati hari penobatan (Jumenengan Dalem) melainkan untuk peringatan hari ulang tahun Sultan (Wiyosan Dalem) berdasarkan kalender Jawa. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono ka10, Hajad Dalem Labuhan dikembalikan untuk peringatan Jumenengan Dalem. Setiap tahun, Upacara Labuhan digelar satu hari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 Rejeb.

Jenis-jenis Upacara Labuhan

Upacara Labuhan diselenggarakan di beberapa lokasi yang disebut dengan petilasan. Petilasan merupakan tempat yang dinilai penting dan memiliki nilai historis terkait keberadaan Keraton Yogyakarta. Dipilihnya petilasan sebagai lokasi upacara Labuhan adalah sebagai wujud menghargai, menghormati, merenungi, serta menapak tilas perjuangan raja-raja pendahulu Keraton Yogyakarta.



1. Labuhan Parangkusumo

Parangkusumo terletak di pesisir selatan Yogyakarta atau lebih tepatnya berada di wilayah Kabupaten Bantul. Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi pemimpin yang baik. Menurut legenda, ketika bertapa Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya. Pada akhirnya Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram dan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penerusnya. Hal inilah yang mendasari dipilihnya Parangkusumo sebagai salah satu lokasi labuhan.

Adapun uborampe yang akan dilabuh pada upacara Labuhan Parangkusumo adalah sebagai berikut:


PengajengPendherek

Lorodan Busana Dalem

  1. Sinjang Cindhe Abrit
  2. Sinjang Limar
  3. Sinjang Cangkring
  4. Semekan Solok
  5. Semekan Gadhung Tepen
  6. Semekan Gadhung Mlathi Tepen
  7. Semekan Jingga Tepen
  8. Semekan Udaraga Tepen
  9. Semekan Banguntulak
  1. Sinjang Poleng
  2. Semekan Solok
  3. Semekan Gadhung Mlathi
  4. Semekan Songer
  5. Semekan Dringin
  6. Semekan Pandhan Binethot
  7. Semekan Podhang Ngisep Sari
  8. Semekan Banguntulak
  9. Semekan Teluh Watu
  10. Kuluk Kanigara
  11. Kuluk Pethak
  12. Songsong Gilap
  13. Gelaran Pasir Sinasapan Mori
  14. Sela, ratus, lisah konyoh
  15. Yatra Tindhih
  1. Sinjang
  2. Surjan
  3. Udheng
  4. Lancingan Panjang
  5. Lancingan Lebet
  6. Rasukan Hem
  7. Kaos
  8. Pethetan Rikma lan Kenaka Dalem
  9. Layon Sekar Kanjeng Kyai Hageng
  10. Layon Sekar



2. Labuhan Merapi

Gunung Merapi terletak di wilayah Kabupaten Sleman yang berada tepat di ujung utara wilayah DIY. Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi labuhan karena dianggap berperan dalam sejarah berdirinya kerajaan Mataram. Pada tahun 1586, kondisi politis Kerajaan Pajang dan Mataram memanas. Hal ini disebabkan karena perkembangan Mataram sebagai wilayah otonom dibawah kerajaan Pajang sangat pesat sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi penguasa kerajaan Pajang yang kala itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya. Keresahan itu membuat Kerajaan Pajang menggulirkan rencana perang untuk melemahkan Mataram. Ketika pasukan Pajang menyerbu Mataram, pada saat bersamaan Gunung Merapi meletus. Letusan Merapi menghancurkan perkemahan pasukan Pajang di wilayah Prambanan. Perangpun berakhir, dan selamatlah Mataram dengan mundurnya pasukan Pajang.

Macam-macam uborampe yang diperlukan pada upacara Labuhan Gunung Merapi adalah sebagai berikut :

  1. Sinjang Limar
  2. Sinjang Cangkring
  3. Semekan Gadhung
  4. Semekan Gadhung Mlathi
  5. Paningset Udaraga
  6. Kambil Wathangan
  7. Ses Wangen
  8. Sela, ratus, lisah konyoh
  9. Yatra Tindhih
  10. Dhestar Daramuluk



3. Labuhan Lawu


Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat pengasingan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1478, Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kerajaan Kaling. Karena tentara Majapahit tidak mampu menghalau serangan tersebut, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk menyingkir ke Gunung Lawu dan hidup menjadi seorang pertapa dan bergelar Sunan Lawu. Prabu Brawijaya V merupakan leluhur dari pendiri kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta sehingga sebagai bentuk penghormatan, Gunung Lawu dipilih menjadi lokasi upacara labuhan. Gunung Lawu terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setiap dilaksanakan Upacara Labuhan, uborampe labuhan diserahterimakan kepada Juru Kunci Gunung Lawu yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Macam-macam uborampe yang diperlukan pada upacara Labuhan Gunung Lawu adalah sebagai berikut :

KasepuhPendherek
  1. Sinjang Limar
  2. Semekan Gadhung Mlathi
  3. Kampuh Poleng Ciut
  4. Dhestar Banguntulak
  5. Paningset Jingga
  1. Sinjang Cangkring
  2. Semekan Gadhung
  3. Semekan Dringin
  4. Semekan Songer
  5. Semekan Teluh Watu
  6. Semekan Jambin
  7. Songsong Pethak Seret Praos
  8. Sela, ratus, lisah konyoh
  9. Yatra Tindhih
KanemanPendherek
  1. Semekan Gadhung Mlathi
  2. Kampuh Poleng Ciut
  3. Dhestar Banguntulak
  4. Paningset Jingga
  1. Sinjang Cangkring
  2. Semekan Gadhung
  3. Semekan Dringin
  4. Semekan Songer
  5. Semekan Teluh Watu
  6. Semekan Jambon
  7. Songsong Pethak Seret Praos
  8. Sela, ratus, lisah konyoh
  9. Yatra Tindhih

4. Labuhan Dlepih Khayangan

Perbukitan Dlepih Khayangan terletak di kecamatan Tirtamaya, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selain Parangkusumo, Dlepih Khayangan merupakan tempat yang digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa sebelum membangun kerajaan dan pemerintahan yang kuat. Selain Panembahan Senopati, tempat ini juga digunakan untuk bertapa raja-raja Mataram dan raja Kasultanan Yogyakarta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).

Berbeda dengan upacara labuhan lainnya, upacara Labuhan Dlepih Khayangan hanya dilaksanakan delapan tahun sekali pada tahun Dal atau setiap sewindu penobatan Sultan. Upacara ini digolongkan dalam Labuhan Ageng, sedangkan upacara Labuhan yang lain digolongkan dalam Labuhan Alit yang digelar setiap tahun. Uborampe upacara Labuhan Dlepih Khayangan antara lain:

  1. Sinjang Limar
  2. Sinjang Lurik Kepyur
  3. Sinjang Perkutut Pethak Seret Abrit
  4. Semekan Solok
  5. Semekan Dringin
  6. Semekan Songer
  7. Sela, ratus, lisah konyoh
  8. Yatra Tindhih

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN