Hajad Dalem

Tingalan Jumenengan Dalem

1699 | Senin, 17 April 2017 admin Peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10 ke-27 dan ulang tahun ke-70 pada tahun 2016. Sumber: Tepas Tandha Yekti

Peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10 ke-27 dan ulang tahun ke-70 pada tahun 2016. Sumber: Tepas Tandha Yekti

Tingalan Jumenengan Dalem adalah serangkaian upacara yang digelar berkaitan dengan peringatan penobatan/ kenaikan tahta Sultan. Puncak acara dalam rangkaian peringatan ini adalah Sugengan yang digelar untuk memohon usia panjang Sultan, kecemerlangan tahta Sultan, dan kesejahteraan bagi rakyat Yogyakarta. Setelah sugengan kemudian digelar acara labuhan di beberapa petilasan yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta. Selain upaya untuk berdoa memohon keselamatan, upacara labuhan baik di gunung maupun tepi laut juga untuk melaksanakan tugas Sultan untuk selalu menjaga keselarasan alam, “Hamemayu Hayuning Bawono”.

Berikut adalah rangkaian acara yang dilakukan pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10:

1. Ngebluk (27 Rejeb)
Ngebluk merupakan kegiatan membuat adonan apem. Ngebluk dilakukan 2 hari menjelang upacara Hajad Dalem Labuhan. Bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton, sebuah tempat yang berada di lingkup Kaputren atau kediaman para Putri Raja. Ngebluk hanya boleh dilakukan oleh para wanita yang dipimpin Permaisuri dan Putri Raja tertua. Selain para Putri Raja, orang-orang yang terlibat pada prosesi ngebluk adalah para kerabat Keraton beserta Abdi Dalem Keparak. Proses pertama, para Putri dibantu oleh Abdi Dalem mencampurkan bahan yang diperlukan guna dijadikan jladren atau adonan. Adonan terus diaduk hingga tercampur. Proses pengadukan adonan menimbulkan suara “bluk”, sehingga prosesi ini disebut Ngebluk. Setelah menjadi jladren, adonan kemudian dipindahkan kedalam enceh (gentong berukuran besar), kemudian didiamkan selama satu malam agar adonan mengembang.

Pada waktu bersamaan beberapa Abdi Dalem Keparak memiliki tugas lain untuk mengeluarkan layon sekar (bunga sesaji yang sudah layu atau mengering) dari Gedhong Prabayeksa (gedung penyimpanan Pusaka). Layon sekar yang terkumpul selama satu tahun akan menjadi salah satu ubarampe yang akan dilabuh.


Para Abdi Dalem Keparak yang menyiapkan adonan apem (ngebluk) pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Sumber: Tepas Tandha Yekti

2. Ngapem (28 Rejeb)
Setelah prosesi ngebluk, keesokan harinya rangkaian acara dilanjutkan dengan ngapem. Ngapem merupakan prosesi membuat apem, kue basah berbentuk bulat. Konon asal kata apem berasal dari bahasa Arab “afwan” artinya maaf atau ampun, yang menyimbolkan permohonan ampun kepada Sang Pencipta. Apem yang akan dibuat dibedakan menjadi dua ukuran, apem biasa yang berukuran kecil dan apem besar atau disebut Apem Mustaka. Apem Mustaka ini disusun sesuai dengan setinggi badan Sultan.

Cara membuat apem kecil, jladren yang sudah didiamkan semalaman dituangkan pada wajan dan di bolak balik hingga matang. Sedangkan apem besar dibuat dengan cara melapisi apem kecil dengan adonan yang dimasak menggunakan ukuran wajan lebih besar. Apem yang sudah dibuat oleh para puteri dan kerabat Sultan ini kemudian akan dibagikan pada acara Sugengan.


Prosesi mempersiapkan apem yang dilakukan oleh para kerabat dan abdi dalem perempuan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Sumber: Tepas Tandha Yekti

3. Mempersiapkan Ubarampe (28 Rejeb)
Pada waktu bersamaan dengan prosesi ngapem, para Abdi Dalem Reh Widyabudaya bertugas menyiapkan ubarampe labuhan. Ubarampe utama berupa seperangkat pakaian yang pernah digunakan Sultan, seperangkat pakaian untuk laki-laki dan perempuan, potongan kuku dan potongan rambut Sultan serta layon sekar. Ubarampe dibawa dari Kawedanan Hageng Punakawan Widya Budaya menuju ke Bangsal Manis untuk diteliti kembali kelengkapannya. Setelah semua lengkap, ubarampe kemudian diinapkan di Gedhong Prabayeksa.
4. Sugengan (29 Rejeb)
Tepat pada hari peringatan penobatan Sultan diadakan acara Sugengan, yaitu upacara selamatan yang dihadiri kerabat Keraton beserta Abdi Dalem. Upacara selamatan ini merupakan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Sultan dan Keraton. Upacara ini diadakan di Bangsal Kencana, seusai upacara kemudian apem dan nasi golong lengkap dibagikan kepada yang hadir. Selain itu, semua ubarampe labuhan dibawa ke Bangsal Srimanganti untuk disemayamkan selama satu malam.


Uborampe setelah didoakan dalam upacara sugengan yang digelar untuk memperingati 27 tahun bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono Ka10.
Sumber: Tepas Tandha Yekti

5. Prosesi Upacara Labuhan (30 Rejeb)
Setelah prosesi sugengan, barulah keesokan harinya diselenggarakan upacara labuhan. Seluruh ubarampe yang telah dipersiapkan diarak dari Gedhong Prabayeksa menuju ke Bangsal Srimanganti untuk diberangkatkan ke masing-masing petilasan. Lokasi-lokasi petilasan untuk upacara Labuhan diantaranya Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Khayangan.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN