Upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal

img_7xDgOtd.jpg
Selasa, 24 Juli 2018 admin

Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal adalah dua upacara yang tidak terpisahkan satu sama lain. Keduanya hanya diselenggarakan tiap 8 tahun sekali, tepatnya pada tahun Dal. Dal adalah nama salah satu tahun dari siklus delapan tahunan (windu) pada sistem penanggalan Jawa. Dalam bahasa Jawa, bethak berarti menanak nasi. Sedang pisowanan, berasal dari kata sowan (menghadap), memiliki arti sebagai pertemuan menghadap raja.

Berikut adalah jalannya upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal berdasar upacara yang diadakan pada tahun Dal 1951 Jawa atau 2017 Masehi.

Memperingati Lailatul Qadar dengan Malem Selikuran

img_vFX9lba.jpg
Selasa, 22 Mei 2018 admin

Tiap bulan Pasa atau Ramadhan, Keraton Yogyakarta selalu mengadakan acara Malem Selikur. Malem Selikur diadakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Kesultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa.

Agama Islam mengajarkan bahwa akan tiba suatu malam yang istimewa pada sepertiga akhir bulan Ramadhan. Malam yang disebut malam Lailatul Qadar ini dipercayai lebih mulia dibanding malam-malam lainnya sehingga digambarkan memiliki nilai yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini pula, Nabi Muhammad dahulu menerima Al Quran yang diturunkan oleh Allah. Untuk menyambut malam ini, umat Islam memperbanyak amal dan ibadah karena diyakini pula pahala yang didapat seribu kali lebih banyak dari hari-hari biasa.

Syiar Islam Melalui Sekaten

img_uDQ8sBR.jpg
Senin, 20 November 2017 admin

Sekaten merupakan Hajad Dalem yang hingga saat ini rutin dilaksanakan Keraton Yogyakarta dari tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 Mulud (Rabi’ul Awal). Sekaten diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada pendapat yang menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “sekati”. Sekati merupakan seperangkat gangsa (gamelan) yang diyakini berasal dari Majapahit yang kemudian dimiliki oleh Kerajaan Demak dan dibunyikan selama pelaksanaan Sekaten. Pendapat lain menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “syahadatain” yang merupakan kalimat untuk menyatakan memeluk Islam.

Jamasan Pusaka

img_6ooGynO.jpg
Senin, 16 Oktober 2017 admin

Jamasan Pusaka, atau disebut juga Siraman Pusaka, merupakan upacara rutin yang dilaksanakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata “siraman” maupun “jamasan” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti memandikan atau membersihkan. Upacara ini diselenggarakan dalam rangka membersihkan benda-benda pusaka milik Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta memiliki berbagai macam benda pusaka. Mulai dari tosan aji (senjata), kereta, bendera, perlengkapan berkuda, gamelan, vegetasi, serat (manuskrip), hingga benda-benda upacara maupun kelengkapan ruang tahta. Benda-benda ini dianggap sebagai pusaka berdasarkan asal usul atau perannya dalam suatu peristiwa bersejarah.

Memperingati Isra' Mi'raj dengan Yasa Peksi Burak

img_7TqVyX1.jpg
Sabtu, 15 April 2017 admin

Dalam rangka memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj yang jatuh pada tanggal 27 Rejeb tahun Jawa, Keraton Yogyakarta mengadakan Hajad Dalem Yasa Peksi Burak. Yasa berarti membuat atau mengadakan. Peksi adalah burung. Burak adalah Buraq, makhluk yang diyakini menjadi kendaraan nabi saat melakukan Isra' Mi'raj. Hajad Dalem ini diawali dengan membuat Peksi Burak, pohon buah dan empat pohon bunga.

Garebeg

img_0QWhNFR.jpg
Senin, 17 April 2017 admin

Garebeg merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini rutin dilaksanakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata Garebeg, memiliki arti diiringi atau diantar oleh orang banyak. Hal ini merujuk pada Gunungan yang diiringi oleh para prajurit dan Abdi Dalem dalam perjalanannya dari keraton menuju Masjid Gedhe. Dalam pendapat lain dikatakan bahwa Garebeg atau yang umumnya disebut “Grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.

TATA PEMERINTAHAN