Hajad Dalem

Upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal

909 | Selasa, 24 Juli 2018 admin Pisowanan Garebeg Mulud Dal tahun 1951 Jawa atau 2017 Masehi

Pisowanan Garebeg Mulud Dal tahun 1951 Jawa atau 2017 Masehi

Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal adalah dua upacara yang tidak terpisahkan satu sama lain. Keduanya hanya diselenggarakan tiap 8 tahun sekali, tepatnya pada tahun Dal. Dal adalah nama salah satu tahun dari siklus delapan tahunan (windu) pada sistem penanggalan Jawa. Dalam bahasa Jawa, bethak berarti menanak nasi. Sedang pisowanan, berasal dari kata sowan (menghadap), memiliki arti sebagai pertemuan menghadap raja.

Berikut adalah jalannya upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal berdasar upacara yang diadakan pada tahun Dal 1951 Jawa atau 2017 Masehi.


Garwa Prameswari GKR Hemas melaksanakan upacara Bethak

Bethak

Prosesi Bethak dilaksanakan mulai petang hari pada tanggal 12 Mulud Tahun Dal di di kompleks Keputren, tepatnya di Bangsal Sekar Kedhaton. Sebelum upacara, para Putri Dalem (putri Sultan), Wayah Dalem Putri (cucu perempuan Sultan), Sentana Dalem Putri (kerabat perempuan Sultan), dan para petinggi Keputren telah berkumpul di Bangsal Sekar Kedhaton.

Upacara dimulai dengan kehadiran Sri Sultan. Beliau miyos (hadir) untuk menyerahkan pusaka Kanjeng Nyai Mrica dan Kanjeng Kiai Blawong yang diambil dari Gedhong Prabayeksa. Kanjeng Nyai Mrica merupakan pusaka berupa kendhil (periuk) yang terbuat dari logam. Sedang Kanjeng Kiai Blawong merupakan dua buah pusaka berwujud piring keramik berukuran besar. Kanjeng Nyai Mrica kemudian diserahkan kepada Prameswari Dalem (Permaisuri Sultan). Sedangkan Kanjeng Kiai Blawong diletakkan di sebuah meja di sayap barat Bangsal Sekar Kedhaton.

Prameswari Dalem, dibantu oleh Abdi Dalem Keparak, kemudian menanak nasi menggunakan Kanjeng Nyai Mrica. Kanjeng Nyai Mrica diletakkan di atas tungku tanah liat berbahan bakar kayu. Abdi Dalem Keparak membantu Prameswari Dalem membuat api dan mencuci beras. Abdi Dalem Keparak yang membantu mengenakan ubet-ubet dari kain mori putih dan udet berwarna merah. Kelengkapan pakaian tersebut merupakan penanda bahwa Abdi Dalem yang bersangkutan telah luwas, atau menopause.

Selain Kanjeng Nyai Mrica, terdapat beberapa kendhil lain yang digunakan untuk menanak nasi. Masing-masing dijaga oleh saudara perempuan Sultan.

Nasi yang telah matang kemudian diletakkan pada piring-piring besar yang disebut blawong. Nasi tersebut kemudian dikepal dengan tangan menjadi bola nasi oleh para Wayah Dalem dan Sentana Dalem yang hadir. Bola nasi yang disebut sebagai sega golong tersebut dibentuk kira-kira sebesar bola ping pong.

Pada malam hari tersebut, Kanjeng Nyai Mrica digunakan untuk enam kali menanak. Pada dini hari, Bethak kembali dilakukan untuk yang ketujuh kalinya. Kali ini dilakukan oleh Putri Dalem tertua. Nasi yang ditanak hingga matang tersebut nantinya diserahkan kepada Sultan saat Pisowanan Garebeg.

Ngarsa Dalem mengepal nasi dalam Pisowanan

Pisowanan Garebeg Mulud Dal

Sejak pagi, tiga gamelan dimainkan bergantian di Plataran Kedhaton Keraton Yogyakarta. Ketiganya adalah Kanjeng Kiai Guntur Laut (Monggang), Kanjeng Kiai Surak, dan Kanjeng Kiai Kancil Belik. Para Abdi Dalem Sipat Bupati datang dan duduk bersila menunggu di kedua Bangsal Kotak yang berada di Plataran Kedhaton, tepat di depan Bangsal Kencana.

Menjelang siang, terdengar teriakan, “Raaaussss,” sebagai penanda kehadiran Sultan, yang miyos dari arah Bangsal Prabayeksa. Gendhing Monggang segera dimainkan untuk mengiringi Miyos Dalem Sultan di Bangsal Kencana. Para Abdi Dalem yang telah menunggu di Bangsal Kotak kemudian diperkenankan maju dan duduk di kursi yang disediakan di tratag Bangsal Kencana. Para Sentana Dalem dan tamu kehormatan lain duduk di sebelah kanan dan kiri Sultan, dengan posisi menghadap beliau.

Tidak lama kemudian, sebuah iringan datang membawa pusaka Kanjeng Nyai Mrica dan Kanjeng Kiai Blawong. Kedua pusaka kemudian dipegang dan diposisikan di hadapan Sultan. Sultan lalu mulai ngeduk (mengambil) nasi di dalam Kanjeng Nyai Mrica dan menaruhnya di Kanjeng Kiai Blawong. Sultan kemudian mulai mengepal nasi yang ada di Kanjeng Kiai Blawong. Kegiatan ini diteruskan oleh Putra dan Mantu Dalem.

Tidak lama berselang, Abdi Dalem Keparak dan Abdi Dalem Kanca Sewidak datang membawa minuman dan nasi yang sudah dikepal pada malam sebelumnya. Setelah sajian ini selesai, Sultan memerintahkan para Abdi Dalem untuk kembali. Ketiga gamelan dimainkan bersamaan hingga akhir gendhing sebagai penanda selesainya Pisowanan Garebeg Mulud Dal.

Makna Simbolis Bethak dan Pisowanan Garebeg Mulud Dal

Upacara keraton yang ditandai oleh prosesi menanak nasi tidak dapat dipisahkan dari latar belakang kebudayaan Mataram Islam yang bercorak agraria. Menanak nasi merupakan simbol dari kemakmuran dan kesejahteraan.

Nasi yang telah ditanak tersebut kemudian dikepal sehingga berbentuk golong (bulat). Ini merupakan manifestasi dari konsep golong gilig, kebulatan tekad untuk bekerja demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Sega golong atau nasi kepal yang kemudian dibagikan Sultan kepada para kerabat dan Abdi Dalem dapat diartikan sebagai simbol membagiratakan kesejahteraan, dan harapan agar Abdi Dalem dapat terus menjalankan tugas dan pengabdian dengan tekad yang bulat demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama.


Danapratapa Episode Garebeg Mulud Dal 1951

Daftar Pustaka:
KRT Rintaiswara. 2015. Tahun Jawa Islam Sultan Agungan. Yogyakarta: KHP Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Tim Penulis. 2017. Tata Rakit Pranatan Lampah-Lampah Sekaten Garebeg Mulud Tahun Dal 1951 Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Kawedanan Hageng Panitrapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Wawancara KRT Rintaiswara pada Desember 2017

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN