Info Terkini

Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa, Keraton Yogyakarta Hadirkan Beksan Ajisaka

2208 | Sabtu, 05 Desember 2020 admin

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama kalinya menampilkan Beksan Ajisaka dalam Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran, Sabtu (05/12) malam. Pahargyan ini diinisiatif oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayaan) DIY dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube TasteOfJogja Disbud DIY. Acara ini dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, KPH Notonegoro, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI, Ketua PANDI, Paniradya Pati, dan segenap tamu undangan. 

Dalam perkembangannya aksara jawa telah terdaftar resmi dalam Unicode Consortium pada 1 Oktober 2009 dengan slot A980 - A9DF. Aksara jawa kini telah memasuki ranah digital, ini menjadi perhatian Pemda DIY dan pihak terkait untuk turut serta mengawal pelestarian, pembinaan, serta pengembangannya. 

Sri Sultan Hamengku Buwono X menggaris bawahi pentingnya digitalisasi aksara jawa, “Kalau suatu aksara tidak hadir dalam bentuk digital, maka dianggap tidak ada. Kalau pun ada, dianggap yang tidak hidup, karena tidak ada lagi pendukungnya”. Sri Sultan Hamengku Buwono X juga mengapresiasi atas terselenggaranya agenda tersebut, “Saat ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kita ada, budaya kita hidup, aksara kita berdaya.”


Beksan Ajisaka, Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X

Untuk memeriahkan malam pahargyan, Keraton Yogyakarta menampilkan Beksan Ajisaka, sebuah Beksan Yasan Dalem Enggal (karya tari baru) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Penamaan tari ini diambil dari tokoh Ajisaka dalam legenda awal mula lahirnya aksara jawa. Tarian ini dibawakan dengan ragam gerak kambeng dan bapang oleh 10 Abdi Dalem Mataya Kakung KHP Kridhomardowo. Dua penari berperan sebagai Ajisaka dan delapan orang sebagai punggawa. Tak seperti umumnya beksan kakung, penari Beksan Ajisaka mengenakan busana kampuhan dan penutup kepala berupa kuluk kanigara. Busana ini terinspirasi dari busana yang dahulu dikenakan para pangeran dalam acara kenegaraan atau upacara ritual di Keraton Yogyakarta. 

Tarian ini mengandung kisah tentang kesiapan diri Ajisaka yang hendak memulai laku untuk mewujudkan cita-cita luhur. Dalam perjalanannya dihadapkan dengan berbagai cobaan dan hambatan, namun semua itu dapat diatasi dengan dasar keimanan, kelantipan, tekad nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Laku ini kemudian bermuara pada rasa syukur dan harapan agar ajaran leluhur dapat dipahami masyarakat dan menjadi tuntunan hidup.


Situs resmi Keraton Yogyakarta, Kini Tersedia dalam Aksara Jawa

Peresmian selebrasi peluncuran Digitalisasi Aksara Jawa ditandai dengan peletakan papan akrilik Mangajapa Mandawa oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Penghageng Tepas Tandha Yekti GKR Hayu, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI dan Ketua PANDI.

Produk digitalisasi yang disajikan berupa laman website Keraton Yogyakarta, yang kini telah dialihaksara jawa dan bahasa jawa. Masyarakat dapat mengakses beberapa ulasan dalam laman tersebut pada aksara.kratonjogja.id. Jenis huruf aksara jawa yang diterapkan adalah Ngayogjan dan Ngayogjan Jejeg, sebagaimana yang digunakan pada surat-surat resmi Pemda DIY.

Agenda ini kemudian ditutup dengan peninjauan pameran oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta tamu undangan, pameran ini ditampilkan dalam layar LCD, diantaranya berupa penggunaan aksara jawa dalam peranti elektronik dan kegiatan serta hasil karya komunitas penggerak aksara jawa.


TATA PEMERINTAHAN