Info Terkini

Gelar Wicara: Bincang Budaya dan Peluncuran Video Tutorial Busana Sabukwala-Kencongan

322 | Kamis, 07 Oktober 2021 admin

Pada Senin Pon (4/10) lalu, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menghadirkan gelar wicara (talk show) dalam rangka Uyon-Uyon Hadiluhung untuk memperingati hari kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dilaksanakan di Bangsal Srimanganti, agenda ini mengambil tajuk “Bincang Budaya dan Peluncuran (Launching) Video Tutorial Busana Anak”. Gelar wicara ini membahas mengenai pakaian adat yang diperuntukkan bagi anak-anak, yaitu sabukwala dan kencongan. Kedua busana tersebut tidak hanya digunakan oleh Putra Dalem (putra/putri Sultan) atau Wayah Dalem (cucu Sultan), namun juga oleh anak-anak Abdi Dalem yang ikut sowan-marak ke keraton.

Uyon-Uyon kali ini juga terasa berbeda dengan hadirnya berbagai sajian gendhing dolanan anak. Keseluruhan acara disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kraton Jogja pukul 19.00 WIB. Para narasumber, Abdi Dalem dan kerabat kerja yang bertugas telah mengikuti tes swab dengan hasil negatif. Protokol kesehatan diterapkan secara ketat selama acara berlangsung.


Masih dipandu oleh KRT Widyapranasworo, agenda ini menghadirkan empat narasumber, yaitu KPH Yudahadiningrat (Penghageng II Parentah Hageng Keraton Yogyakarta), RAy Mari Condronegoro (penulis buku tentang Busana Adat Keraton Yogyakarta), RAj Arti Ayya Fatimasari Wironegoro dan RM Drasthya Wironegoro (putri dan putra GKR Mangkubumi dengan KPH Wironegoro). 

Narasumber pertama, RAj Mari Condronegoro membagikan pengalaman semasa kecil saat mengenakan busana sabukwala. Busana adat untuk anak perempuan ini berbeda penggunaan saat berada di dalam dan di luar keraton. “Biasanya kalau di dalam keraton, untuk anak-anak itu tidak digelung (tata rambut). Kalau berambut pendek hanya diurai saja, kalau panjang biasanya dikelabang (dikepang). Jika rambut digelung akan terasa berat. Sedangkan untuk di luar keraton (penggunaannya) lebih sederhana dan bebas menggunakan aksesoris, “ papar Bu Mari. 

Bu Mari menambahkan, “Penggunaan jarik untuk busana sabukwala hanya dilipat dan disesuaikan dengan tinggi anak.” Menurut beliau penggunakan busana sabukwala sudah diperhitungkan untuk kenyamanan anak dengan satu lilitan. Di masa sekarang banyak anak-anak yang dipakaikan busana adat layaknya orang dewasa dengan lilitan ganda, sehingga menyulitkan kegiatan mereka. 


Narasumber kedua adalah RAj Arti Ayya Fatimasari Wironegoro. Diajeng Arti berbagi cerita saat pertama kali menggunakan busana sabukwala. Kala itu, Diajeng Arti masih duduk di bangku kelas 3 SD, tepatnya saat menghadiri upacara ngabekten. “Ibu selalu mendorong saya untuk berpartisipasi ke acara-acara keraton serta melestarikan budaya Jogja,” ungkap Diajeng Arti saat menjelaskan peranan orang tua dalam pemakaian busana adat sabukawala.

Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh KPH Yudahadiningrat. Menurut Kanjeng Yuda, penggunaan busana kencongan merupakan pakaian anak laki-laki yang mudah dan nyaman. “Sekarang ini anak-anak kecil ketika memperingati Kamis Pahing, sudah pakai keris, wiron dan blangkon. Seharusnya anak-anak diberi pakaian kencongan yang lebih simpel. Saat memasuki bangku SMP dan SMA, baru menggunakan wiron dengan surjan lurik dan blangkon,” tutur Kanjeng Yuda.


Menurut KPH Yudahadiningrat, UU Keistimewaan Nomor 13 tahun 2012 pasal 5 memuat tentang peran serta tanggung jawab Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman untuk menjaga dan mengembangkan budaya Yogyakarta sebagai warisan budaya bangsa. “KHP Kridhomardowo sudah melaksanakan amanat UU tersebut antara lain dengan acara malam hari ini,” jelas Kanjeng Yudo.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh RM Drasthya Wironegoro. Dimas Drasthya membagikan pengalaman memakai busana adat kencongan dalam acara keraton. “Busana kencongan sangat sederhana, tidak seperti yang saya pakai sekarang (busana pranakan). Busana itu sangat mudah untuk ditata ketika berantakan,” kesan Dimas Drastya. Menurut Dimas Drastya, video tutorial penggunaan busana anak sabukwala dan kencongan yang diluncurkan bersamaan dengan gelar wicara ini dapat menjadi sarana edukasi. 

Keempat narasumber sepakat, semoga momentum ini dapat kembali menggiatkan pemakaian busana adat bagi anak-anak. Harapan besar bagi seluruh masyarakat terutama generasi muda untuk ikut serta melestarikan budaya, salah satunya dengan mempelajari busana adat. Dengan demikian, masyarakat memahami dengan benar penggunaan busana anak sesuai batasan umur.



Related Articles

TATA PEMERINTAHAN