Info Terkini

Upacara Sekaten dan Garebeg Mulud Be 1952

186 | Sabtu, 24 November 2018 admin Sri Sultan Hamengku Buwono X berjalan keluar dari Masjid Gedhe setelah mendengarkan pembacaan riwayat Nabi

Sri Sultan Hamengku Buwono X berjalan keluar dari Masjid Gedhe setelah mendengarkan pembacaan riwayat Nabi

Keraton Yogyakarta baru saja selesai melaksanakan seluruh rangkaian Sekaten. Sekaten kali ini digelar pada 14-21 November 2018. Rangkaian upacara Sekaten dimulai dari Miyos Gangsa, Numplak Wajik, Kondur Gangsa, Garebeg, dan Bedhol Songsong.

Prosesi Miyos Gangsa atau dikeluarkannya gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga berlangsung pada hari Rabu (14/11) tanggal 6 Mulud tahun Jawa. Sebelum dikeluarkan dari keraton, kedua gamelan ini ditempatkan di Bangsal Pancaniti pada pukul 15.00. Malam pukul 20.00, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, dan GKR Hayu sebagai Utusan Dalem menyebar udhik-udhik di area Bangsal Pancaniti, Plataran Kamandhungan Lor, untuk dibagikan pada masyarakat dan Abdi Dalem. Udhik-udhik terdiri dari bunga, uang logam, beras, dan biji-bijian sebagai lambang sedekah raja bagi rakyatnya.

Tepat pukul 23.00, kedua gamelan dibawa menuju Masjid Gedhe melalui Sitihinggil Lor dan Alun-alun Utara. Gamelan kemudian ditempatkan pada Pagongan Lor dan Kidul di kanan dan kiri Masjid Gedhe.

Tiga hari sebelum Garebeg, Minggu (18/11) atau 9 Mulud, dilaksanakan Numplak Wajik di Panti Pareden pada pukul 15.40. Prosesi ini dipimpin oleh GKR Mangkubumi. Wajik ditumplak untuk ditempatkan di tengah badan Gunungan Wadon.

Bersamaan dengan pelaksanaan Numplak Wajik, digelar pula Gladhi Prajurit yang diikuti oleh kesepuluh bregada prajurit keraton yang akan bertugas mengawal gunungan saat Garebeg Mulud berlangsung. Rute latihan dimulai dari Pratjimosono, dilanjutkan menuju Kamandungan Lor atau yang biasa disebut Keben, Sitihinggil Lor, Pagelaran, Alun-alun Utara, lalu kembali ke Pratjimosono. Dalam latihan ini, para bregada belum mengenakan seragam kesatuan namun hanya mengenakan pakaian peranakan sembari membawa atribut sesuai bregada masing-masing.

Satu minggu setelah ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe, gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dikembalikan ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Prosesi ini berlangsung pada Selasa (20/11) tepat pada pukul 23.00. Gamelan dibawa menuju keraton melalui Alun-alun Utara, Sitihinggil Lor, dan Kamandhungan Lor.

Sebelum pelaksanaan Kondur Gangsa, Sultan miyos (hadir) di Masjid Gedhe pada pukul 20.00 untuk menyebar udhik-udhik di Pagongan Kidul, Pagongan Lor, dan di dalam Masjid Gedhe. Sultan kemudian mendengar pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dibawakan oleh Abdi Dalem Pengulon di serambi Masjid Gedhe. Pada saat tersebut, Sultan mengenakan simping mlathi di telinga kiri yang melambangkan bahwa raja akan mendengarkan aspirasi rakyatnya.

Keesokan paginya pada Rabu (21/11) 12 Mulud, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Garebeg Mulud Be 1952. Tiga Gunungan Kakung, satu Gunungan Estri, satu Gunungan Darat, satu Gunungan Gepak, dan satu Gunungan Pawuhan dibagikan ke tiga tempat berbeda. Pukul 11.00, gunungan dibawa keluar dari keraton dengan dikawal oleh Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta. Dua Gunungan Kakung dibagikan di Pura Pakulaman dan Kepatihan, sedangkan gunungan lainnya dibagikan di Masjid Gedhe.

Pada malam harinya pukul 20.00, diselenggarakan upacara Bedhol Songsong di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Upacara ini berupa pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Lakon yang dibawakan kali ini adalah Lampahan Wisanggeni Ratu dengan Dalang Mas Cermo Wasito dari KHP Kridamardhawa. Sore sebelumnya, songsong (payung agung) yang dipasang sepanjang Sekaten telah dibedhol (dicopot) dari Plataran Pagelaran untuk dibawa masuk kembali ke dalam keraton.

TATA PEMERINTAHAN