Ragam

Hardo Wijoyopadmo Matoyo, Antep dalam Tekad dan Kosong dalam Pamrih

414 | Selasa, 30 Oktober 2018 admin Dalam Pementasan Lawung Jajar

Dalam Pementasan Lawung Jajar

Raden Jajar Hardo Wijoyopadmo Matoyo belum lama menjadi Abdi Dalem di Kawedanan Hageng Punokawan Kridamardhawa, namun pengabdiannya pada keraton dan seni klasik gaya Yogyakarta telah ia lakoni jauh sebelumnya. Hardo merupakan penari tradisi Yogyakarta yang telah menyemarakkan puluhan panggung nusantara maupun mancanegara.

Lahir dalam keluarga penari, pemilik nama asli Sri Wigihardo Handono Putra ini akrab dengan tari sejak belia. “Bapak Ibu penari semua. Saya belajar melalui melihat, lama-lama suka.”

Kebetulan pula semasa kecil ia tinggal di Dalem Kaneman yang digunakan sebagai sasana latihan tari. “Seminggu bisa empat kali (latihan di situ), bahkan lebih.”

Ia mengenang pada masa itu menari adalah sarana bermain. “Zaman dulu ada jogedan. Artinya kita memerankan suatu tokoh, misalnya kalau sekarang jadi Batman.” Hardo mencontohkan ia membuat aneka properti Hanoman karena dulu ia mengidolakan tokoh Hanoman. Ia buat mahkota, kostum, dan topeng dari bahan-bahan yang ada, seperti daun-daunan.

Menari Karena Suka

Hardo mulai belajar menari secara sungguh-sungguh saat duduk di kelas dua SD. Ia belajar di perguruan tari Siswa Among Beksa. Di rumah ia belajar menari bersama ayahnya yang berprofesi sebagai guru tari sekaligus Abdi Dalem.

Saat remaja, ia menggeluti tari secara lebih serius dengan alasan yang terkesan sangat sederhana, karena ia suka. “Dulu itu nggak tahu kenapa, saya merasa harus. Kalau nggak datang latihan rasanya menyesal.” Saking bersemangatnya, Hardo belajar jauh lebih banyak daripada teman-teman sebayanya. Hardo mengikuti dua latihan sekaligus, untuk siswa tari dan untuk penari profesional, padahal para penari profesional bisa belajar dari pukul tujuh hingga dua belas malam.

Sejenak dengan Tari Kreasi Baru

Pada tahun terakhir SMA, Hardo sempat tertarik mempelajari tari kreasi baru. Ia pun bergabung di sanggar tari Bagong Kusudiharjo. Ia mengaku saat itu ia tidak menyentuh tari klasik sama sekali. Namun setelah beberapa tahun berlalu, tanpa tahu sebabnya, ia bosan meski mendapat penghasilan besar darinya. “Saya merasa tempat saya bukan di situ. Saya sudah cukup. Mau apa (lagi)?” Saat itu Hardo sudah menjadi mahasiswa seni rupa ISI Yogyakarta jurusan desain interior.

Meski tetap menarikan kreasi baru, Hardo tak bisa memungkiri jiwanya yang lebih menyukai tari klasik, “Bila ada teman yang mengajak menari klasik, saya prioritaskan, tanpa mempertimbangkan besar kecilnya bayaran.” “Tari klasik itu sudah dibakukan dan sudah berjalan sekian lama. Unsur-unsur di dalamnya sangat rumit dan terikat satu sama lain. Mungkin itu (yang membuat saya tertarik menekuni tari klasik). Semakin dalam saya belajar, semakin banyak yang tidak saya ketahui,” lanjutnya.

Menjadi bagian Keraton Yogyakarta

Sejak kecil Hardo sudah sering mengikuti ayahnya masuk ke keraton. Ia terkagum-kagum melihat para penari berlatih di istana. Bermula dari menonton, ia akhirnya boleh ikut menari di Bangsal Kasatriyan. “Setelah hapal tayungan, terus boleh naik (bangsal), rasanya senang sekali. Melihat para pengajarnya, wow… saya merinding.” Ia mendapat Dawuh Dalem atau tugas pertamanya saat kelas 4 SD dalam lakon Arjuna Wiwaha. Mendapat tugas dari keraton diakuinya menimbulkan perasaan luar biasa.

Sekitar tahun 2002, Hardo memutuskan berhenti pentas. “Ada keyakinan dalam diri saya untuk menari hanya demi diri sendiri. Saya tidak ingin dilihat. Bisa dikatakan menari menjadi kegiatan yang sangat pribadi.”

Namun pada 2013, Hardo mendapat panggilan untuk mengabdi sebagai asisten pengajar tari di Bangsal Kasatriyan. Kegiatan latihan menari di bangsal ini sempat berhenti dan hendak dihidupkan kembali. Para pelatih muda ditugasi untuk mendampingi guru sepuh yang sudah tidak bisa mencontohkan gerakan secara penuh. “Saya mendapat perintah langsung untuk membantu. Tanpa mikir apa-apa, tanpa pertimbangan apa-apa, saya bilang ‘Ya, sendika dawuh.’ Setelah sekian tahun mengabdi, ia resmi diwisuda menjadi Abdi Dalem Juli tahun 2018 dengan pangkat Raden Jajar.

Berbakti untuk Tari

Dari sekian banyak tari yang sudah ia tampilkan, Hardo menuturkan ada dua tari yang paling berkesan dan menuntut persiapan lebih matang. Yang pertama adalah tari Lawung Jajar. “Itu impian sejak kecil. Waktu kecil saya melihat bapak sering menampilkan tarian tersebut. Sekarang saya juga menarikannya, dengan posisi yang sama persis. Terlebih sekarang bapak sudah tiada.” Yang kedua adalah peran Gatotkaca. Hardo sering mendapat tugas untuk memerankan tokoh ini dan menurutnya tokoh ini membutuhkan persiapan lebih matang.

Meski demikian, Hardo menegaskan setiap pentas pasti memiliki kesan khusus. Baginya, perasaan saat pentas dapat dibilang sama, yang berbeda justru persiapannya, “Ada rasa tersendiri saat ‘Oh, besok aku mau njoged di Bangsal Kencana atau di Pagelaran.’ Beda rasa dan beda persiapan batin. Persiapan konsentrasinya juga berbeda.”

Setelah menjadi Abdi Dalem, penari yang mengkhususkan pada tari gagah ini menyatakan mendapatkan ketenangan batin lebih yang tak bisa ia ungkapkan dengan tepat, “Makin antep dan makin kosong. Antep dalam tekad dan kosong dalam pamrih.”

Di dalam keraton ia bertugas mengajar tari seminggu sekali dan membantu perhelatan budaya. Di luar itu ia mengajar di Siswa Among Beksa dan menjalankan wirausaha mandiri.

Pria berputra dua ini berharap generasi muda mengenal budaya tempat mereka dilahirkan, “Suka atau tidak itu relatif, tetapi minimal tahu.” Mengenal budaya menurutnya akan membuat kita lebih kokoh dan percaya diri. Ini penting sebagai pijakan untuk mengenali budaya-budaya lain

Dalam Gladi Bersih Beksan Menak Umarmaya Umarmadi

TATA PEMERINTAHAN