Ragam

KPH Yudahadiningrat,‘Prajurit’ yang Tak Berhenti Mengabdi

5174 | Selasa, 24 November 2020 admin

Brigjen (Purn) RM Nuryanto, SH dapat dibilang telah mencapai segalanya. Sebagai prajurit TNI AD, beliau sudah meraih pangkat tertinggi di korpsnya. Di Keraton Yogyakarta, beliau telah menyandang gelar KPH (Kanjeng Pangeran Haryo), pangkat tertinggi untuk Abdi Dalem. Keempat anaknya pun telah mapan dengan karier cemerlang masing-masing. Namun, beliau tak berniat berleha-leha, justru makin bersemangat mengabdi di keraton untuk memberi manfaat pada masyarakat. Kaya pengalaman tak membuat mantan Staf Ahli Kepala Staf AD ini tinggi hati. Kanjeng Yuda merasa harus terus belajar dan menjadikan keraton sebagai sumber pengetahuan tanpa batas. 

Begitu purnatugas pada 2004, RM Nuryanto langsung kembali ke tanah kelahirannya Yogyakarta. Tahun itu pula, beliau bergabung menjadi Abdi Dalem dan mendapat Nama Paring Dalem Yudahadiningrat –biasa dipanggil Kanjeng Yuda–. Sebagai Wakil Penghageng Parentah Ageng, Kanjeng Yuda bertugas mendampingi KPH Wironegoro mengelola Abdi Dalem yang jumlahnya sekitar tiga ribu orang, mulai dari penerimaan, kenaikan pangkat, hingga pemberhentian. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Wakil Penghageng Tepas Tandha Yekti, Kanjeng Yuda mendampingi GKR Hayu untuk mengelola pusat data dan informasi di keraton. 

Masa Kecil Bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X

Kanjeng Yuda merupakan sepupu Sri Sultan Hamengku Buwono X. Semasa kecil, mereka kerap bermain bersama. “Ngarsa Dalem hobinya mandi di sungai. Bila terdengar ‘kring-kring’ (bel sepeda), oh Ngarsa Dalem rawuh. Beliau usianya dua tahun di bawah saya, tapi selalu ngampiri saya. Sepeda ditinggal di rumah lalu jalan ke kali untuk mandi, seperti anak-anak lain,” kenangnya sambil tertawa. Rumah Kanjeng Yuda di Dalem Suryowijayan memang tak jauh dari sungai Winongo. 

Kini Kanjeng Yuda menjadi salah satu orang yang sering diberi tugas oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisuri. Beliau banyak dilibatkan dalam masalah-masalah pemerintahan keraton, termasuk diutus menjadi anggota kepanitiaan khusus di DPRD DIY dalam pembahasan perencanaan UU Keistimewaan Yogyakarta dan menjadi saksi ahli di hadapan Mahkamah Konstitusi untuk persidangan masalah yang sama. 


Jiwa militer masih tertanam kuat dalam dirinya sehingga semua perintah Kanjeng Yuda jalani sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab, bahkan meski awalnya merasa tidak mampu. Beliau justru menganggap setiap tugas adalah pemantik kemajuan diri. “Untung saya didhawuhi duduk dalam kepanitiaan khusus di DPRD, sehingga saya mendapat banyak ilmu baru. Sampai sekarang saya sering diminta ceramah di sana-sini. Saya punya bekal (pengetahuan mengenai) Perda Keistimewaan yang saya kuasai karena (saya) ikut menyusun bukunya,” demikian beliau mencontohkan. Beliau percaya, bila kita ikhlas menjalankan tugas, pasti ada jalan untuk menunaikannya dengan baik. 

Beberapa amanah wajibkan Kanjeng Yuda untuk membaca banyak referensi, termasuk babad-babad kuno. Ini pun Kanjeng Yuda jalankan dengan senang hati hingga rak buku di rumah dan di kantornya penuh dengan buku-buku terkait keraton. Tak heran, beliau menjadi salah satu ahli sejarah dan tata pemerintahan Keraton Yogyakarta. Banyak yang memintanya berbagi pengetahuan di berbagai forum, mulai dari diklat ASN, pendidikan pamong desa, hingga pembekalan pengemudi transportasi umum. Materi yang beliau sampaikan beragam, meliputi sejarah, budaya, dan nilai-nilai keteladanan. Beliau menganggap penting semua profesi. Pamong desa, sesuai dengan arahan Sri Sultan Hamengku Buwono X, beliau pandang sebagai ujung tombak pembangunan, sementara para pengemudi transportasi umum merupakan garda depan pariwisata.  

Prajurit Berhati Lembut

Sebagai purnawirawan tentara, Kanjeng Yuda membawa kebiasaan disiplin ke dalam keraton. Namun, beliau juga tetap berpegang pada slogan yang selalu dipasang di tempat kerjanya dahulu, “Ulat sumeh agawe senenge wong akeh.” Wajah yang ramah membuat senang banyak orang. “Saya tanamkan pada prajurit saya, harus ramah pada masyarakat sembari menjalankan perintah-perintah atasan. Kita ini abdi negara dan abdi masyarakat.” Di keraton Kanjeng Yuda pun memposisikan diri untuk melayani, baik Ngarsa Dalem sebagai rajanya maupun Abdi Dalem yang menjadi tanggung jawabnya. Mungkin inilah yang membuat langkahnya selalu ringan, seberat apa pun amanah yang beliau emban. 

“Selama lima belas tahun (menjadi Abdi Dalem) tidak ada dukanya. Semuanya suka. Saya bangga menjadi Abdi Dalem dan saya suka pekerjaan ini,” tuturnya sambil menambahkan bahwa aktif bekerja membuatnya tetap sehat jasmani dan rohani. 

Berbeda dengan dunia tentara yang serba tegas, di keraton Kanjeng Yuda menghadapi semuanya dengan kesabaran. “(Terhadap) Pengaduan apa pun, saya tidak pernah kasar atau marah, saya hadapi dengan senyum.” Kanjeng Yuda merasakan perubahan drastis setelah masuk ke keraton. “Waktu jadi tentara selalu dihadapkan pada dunia yang keras, menempeleng, membentak, dan sebagainya. Di keraton tidak pernah saya temui, semua serba terukur, teratur,  penuh sopan santun.” Selanjutnya beliau mengungkapkan bahwa di keraton, ibu jari lebih sering digunakan sebagai gestur, alih-alih jari telunjuk. “Tidak ada kejadian orang marah-marah pakai jempol. Begitu diajarkan (bahwa) di keraton (kita) menggunakan jempol, kemarahan itu sirna. Jempol adalah alat kendali kita untuk tidak emosional.” Telanjang kaki tanpa alas yang juga menjadi aturan bagi Abdi Dalem mengajarkan hidup sederhana. Sementara membungkukkan badan adalah cara menghormati orang lain apa pun pangkat dan jabatannya. 

Kanjeng Yuda mengamalkan pitutur Sultan Hamengku Buwono I hamemayu hayuning bawono, dan nyawiji, greget, sengguh ora, mingkuh (fokus, bersemangat, percaya diri dan pantang menyerah) dalam menjalankan tugas. Sementara ajaran Sultan Agung mamasah memising budi, memasuh malaning bumi beliau jadikan landasan bagi kehidupan sehari-hari. Ajaran tersebut menekankan pentingnya mengasah budi pekerti lantip ing panggraito, membersihkan nafsu duniawi. “Itu filosofi yang amat dalam. Itu selalu ditekankan Ngarsa Dalem,” ujarnya. Mantan perwira yang pernah ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia ini memang rajin mencatat pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X sehingga kutipan pidato beliau banyak diingatnya. “Saya perhatikan (pidato-pidato tersebut), karena pidato beliau di mana pun selalu berbobot dan memberikan ilmu kepada saya, jadi terus terang saya terkagum-kagum dengan pandangan beliau yang begitu hebat.”


Pelestari Budaya

Layaknya putra-putra pangeran di kalangan keraton, Kanjeng Yuda juga belajar menari sewaktu muda. “Orang tua saya berkata kamu boleh bodoh di sekolah, tapi harus pintar menari. Pulang sekolah, tidak makan dulu, tapi menari dulu. Gamelannya dari mulut orang tua saya.”

Meski pekerjaan membuat Kanjeng Yuda sibuk, di luar keraton, mantan atlet tenis dan boling ini masih aktif di kampung dan menjadi Ketua Warga Magersari. Keberhasilan menjalankan semua peran beliau akui tak lepas dari dukungan keluarga. “Saya jadi Abdi Dalem karena dorongan istri,” akuinya. “Istri (menjadi) motivator untuk selalu mengabdi. Anak-anak mendukung semua. Mereka bangga saya jadi Abdi Dalem.

Kini Kanjeng Yuda tidak memiliki ambisi pribadi. “Saya ingin hidup yang tenang, bebas, ayem, tentrem, dan selalu diparingi sehat. Saya tidak (lagi) punya cita-cita lain selain mengabdi untuk keraton karena semua hal sudah saya capai.” Namun, beliau memiliki cita-cita tinggi agar Keraton Yogyakarta menjadi ikon, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia. “Keraton harus maju, bermartabat dan menjadi pusat budaya jawa.”

TATA PEMERINTAHAN