Siklus Hidup

Dhaup Ageng

2448 | Minggu, 16 April 2017 admin Prosesi Kirab bagi GKR Hayu dan KPH Notonegoro pada Oktober 2013. Sumber: Tepas Tandha Yekti

Prosesi Kirab bagi GKR Hayu dan KPH Notonegoro pada Oktober 2013. Sumber: Tepas Tandha Yekti

Dhaup Ageng adalah hajad seorang raja ketika menikahkan anak perempuannya. Dalam tradisi Jawa, gelaran pernikahan diselenggarakan oleh pihak perempuan. Pada umumnya raja-raja jaman dahulu memiliki banyak istri dan anak, untuk itu Upacara Dhaup Ageng hanya digelar jika calon mempelai wanita merupakan putri raja yang lahir dari seorang permaisuri. Disamping itu, tidak jarang upacara pernikahan kerajaan pada jaman dahulu digelar sekaligus untuk beberapa putra-putri Sultan. Tercatat pada Tahun 1939 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menikahkan 7 pasang pengantin secara bersamaan. 

Pada jaman dahulu Dhaup Ageng digelar dengan rangkaian prosesi yang dilakukan hingga berhari-hari. Bahkan pantangan yang harus dijalani oleh kedua mempelai berlangsung beberapa hari sebelum upacara pernikahan hingga 35 (selapan) hari setelahnya.

Dari masa ke masa, upacara Dhaup Ageng telah mengalami banyak penyederhanaan. Walaupun demikian inti dari setiap prosesi masih terus dipertahankan hingga saat ini. Berikut adalah penjelasan mengenai prosesi yang berlangsung dalam upacara Dhaup Ageng yang lazim dilaksanakan pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10.


1. Lamaran

Apabila kedua calon pengantin sudah setuju untuk membina rumah tangga maka pihak calon pengantin pria akan menyatakan kesungguhannya melalui upacara lamaran. Setelah diterima dengan baik oleh keluarga Sultan, maka proses berikutnya adalah penentuan tanggal pernikahan berikut semua prosesi yang mengiringi dan siapa saja yang terlibat dalam upacara Dhaup Ageng. Sebagai tanda akan memasuki tahap kehidupan baru, Sultan akan memberikan nama dan gelar baru kepada kedua calon pengantin. Dengan ini maka seluruh identitas kependudukan serta panggilan kedua belah pihak akan berganti menyesuaikan dengan nama dan gelar baru masing-masing.

2. Majang & Pasang Tarub

Inti dari upacara Majang & Pasang Tarub ini adalah menghias tempat-tempat yang akan dijadikan lokasi pelaksanaan seluruh prosesi Dhaup Ageng. Tentunya tidak hanya menghias, tetapi juga memohon agar semua pelaksanaan acara berlangsung dengan lancar. Di dalam keraton semua ini disimbolkan dengan memasang hiasan dan sesaji. Pihak penanggungjawab acara Dhaup Ageng akan memasang bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang masih muda (janur) di atas atap. Selanjutnya, tarub atau hiasan janur yang dibuat melengkung dan tuwuhan yang terdiri dari pohon, daun dan biji-bijian tertentu akan dipasang dibeberapa lokasi di dalam keraton.

3. Nyantri

Nyantri merupakan upacara peyambutan calon mempelai pria beserta seluruh keluarganya untuk memasuki lingkungan Keraton Yogyakarta. Nyantri diibaratkan sebagai proses memperkenalkan calon mempelai pria mengenai adat istiadat, peraturan, serta keseharian keluarga kerajaan. Kerabat Sultan mewakili pihak keraton menjemput calon mempelai pria beserta keluarga di tempat tertentu yang berada di sekitar lingkungan Keraton Yogyakarta. Penjemputan dilakukan menggunakan iring-iringan kereta kuda dari tempat tersebut menuju Kompleks Kasatriyan, sebuah tempat di Keraton Yogyakarta yang diperuntukan bagi laki-laki. Keluarga dan calon mempelai pria kemudian dijamu oleh keluarga keraton sebagai bentuk penyambutan dan ucapan selamat datang.

4. Siraman

Prosesi nyantri kemudian dilanjutkan dengan Siraman, yaitu ritual memandikan kedua calon mempelai. Siraman memiliki makna membersihkan atau mensucikan kedua mempelai dari segala keburukan secara lahir dan batin. Siraman dilakukan oleh ibu, calon ibu mertua, serta kerabat calon mempelai wanita yang dituakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk doa restu yang diberikan bagi kedua calon mempelai. Prosesi siraman dilakukan diwaktu dan tempat yang terpisah. Siraman pertama diperuntukkan bagi calon mempelai wanita, di Bangsal Sekar Kedhaton. Calon mempelai wanita dimandikan dengan menyiramkan air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang dicampur dengan bunga-bunga. Usai memandikan calon mempelai wanita, air dari tujuh sumber beserta kerabat yang memandikan mempelai wanita diboyong menuju Bangsal Kasatriyan untuk melakukan prosesi siraman bagi calon mempelai pria.

Setelah melakukan prosesi siraman, kedua calon mempelai kemudian di rias untuk melaksanakan prosesi selanjutnya. Riasan yang umumnya dikenakan terhadap pengantin wanita adalah mengerik rambut halus pada dahi & tengkuk untuk dibuat cengkorongan atau pola riasan paes ageng.


Prosesi siraman bagi KGPH Mangkubumi yang kelak naik tahta sebagai Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10.

Sumber: Koleksi pribadi keluarga HB Ka10

5. Tantingan

Tantingan adalah sebuah prosesi pemanggilan calon mempelai wanita oleh Sultan. Dalam prosesi ini, Sultan akan menanyakan kemantapan hati dan kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan pria yang telah meminangannya. Dahulu prosesi tantingan merupakan hari dimana Sultan memberitahukan dengan siapa putrinya akan menikah. Pada umumnya para putri Sultan terdahulu menikah melalui proses perjodohan. Sebelum prosesi tantingan berlangsung ia tidak tahu siapa pria yang akan dinikahinya esok hari. Prosesi tantingan dilaksanakan sore hari setelah waktu magrib di emper Gedong Prabayeksa.

6. Midodareni

Midodareni berlangsung malam hari sebelum prosesi inti pernikahan dimulai. Midodareni adalah bentuk dari permohonan calon mempelai wanita agar seluruh prosesi pernikahan esok hari berjalan dengan lancar. Midodareni berasal dari kata “bidadari”. Hal ini merupakan simbol dan permohonan agar saat menjelang pernikahan calon mempelai wanita berparas secantik bidadari. Pada malam midodareni, dipercaya para bidadari turun dari kayangan dan menjelma menjadi paras rupawan calon mempelai wanita. Peristiwa turunnya bidadari dipercaya berlangsung menjelang tengah malam. Konon, prosesi seperti ini meniru Ki Jaka Tarub yang akan menikahkan putrinya, Nawangsih. Ki Jaka Tarub meminta bidadari Nawangwulan agar bersedia turun ke bumi merias putrinya pada malam sebelum ia dinikahkan.

7. Akad Nikah

Akad nikah merupakan acara inti dari pernikahan untuk mengesahkan kedua calon mempelai menjadi sepasang suami istri. Acara diawali dengan penjemputan calon mempelai pria oleh kerabat Sultan di Bangsal Kasatriyan. Rombongan kemudian menuju Masjid Panepen yang berada didalam lingkungan Keraton Yogyakarta. Di Masjid Panepen inilah prosesi akad nikah berlangsung. Akad nikah hanya dihadiri oleh kaum laki-laki seperti calon mempelai pria, kerabat mempelai pria dan kerabat dekat Keraton. Saat prosesi akad nikah berlangsung, Sultan sendirilah yang menikahkan putrinya. Usai mengucap ikrar ijab qobul dan sah menjadi sepasang suami istri, mempelai pria kemudian melakukan sungkeman kepada Sultan sebagai wujud penghormatan dan permohonan doa restu. Usai sungkeman, Sultan kembali ke kediamannya di Kraton Kilen, sedangkan mempelai pria kembali ke Kasatriyan untuk mempersiapkan prosesi selanjutnya.

8. Panggih

Upacara panggih merupakan prosesi bertemunya sepasang pengantin setelah sah menjadi suami istri. Mempelai pria yang datang dari Kasatriyan serta mempelai wanita dari Sekar Kedhaton dipertemukan di Tratag Bangsal Kencana. Secara bergantian pengantin pria yang membawa 4 gulungan daun sirih (gantal) melemparkan terlebih dahulu secara berlahan-lahan kepada pengantin wanita yang membawa 3 buah gantal. Selanjutnya, pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria dan dilanjutkan dengan memecah telur. Pada upacara panggih ini juga dilakukan prosesi Pondongan. Pondongan adalah mengangkat mempelai wanita dengan kedua tangan, yang dilakukan oleh mempelai pria dan paman mempelai wanita. Mempelai wanita dipondong dalam posisi duduk setinggi pundak keduanya. Prosesi pondongan ini dilaksanakan di depan seluruh keluarga beserta tamu undangan yang hadir sebagai perlambang menghormati kedudukan sang mempelai wanita sebagai putri Sultan dari permaisuri. Usai prosesi panggih rombongan pengantin diboyong ke Kasatriyan untuk melakukan prosesi selanjutnya.

Prosesi pondhongan dalam upacara pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro.
Sumber: Tepas Tandha Yekti
9. Tampa Kaya

Usai melangsungkan prosesi panggih, upacara dilanjutkan dengan prosesi tampa kaya. Pada prosesi ini, mempelai pria menuangkan beberapa keping uang logam dan berbagai macam biji-bijian untuk diterima mempelai wanita. Tampa kaya menyimbolkan bentuk tanggung jawab suami untuk memberikan nafkah dan melimpahkan kesejahteraan kepada sang istri. Tampa kaya berlangsung di Gedhong Purwarukmi, Komplek Kasatriyan.

10. Dhahar Klimah

Prosesi selanjutnya adalah dhahar klimah yang dilangsungkan di gadri (serambi belakang) Kasatriyan. Dhahar klimah merupakan prosesi perjamuan makan kedua mempelai pengantin. Mempelai pria akan mengepal nasi beserta lauk pauknya berjumlah tiga buah. Nasi kemudian diberikan kepada mempelai wanita untuk dimakan.

11. Kirab

Rangkaian prosesi dhaup ageng dihari terakhir diawali dengan kirab pengantin. Kirab merupakan prosesi menghantarkan kedua mempelai menuju acara resepsi yang akan berlangsung di Kepatihan. Kirab sekaligus merupakan kemunculan kedua mampelai pengantin dihadapan seluruh khalayak. Iring-iringan pengantin, Sri Sultan, Permaisuri, Pakualam, seluruh kerabat, serta seluruh prajurit diarak keluar dari Keraton Yogyakarta menggunakan kereta kuda melewati jalan Malioboro menuju Kepatihan. Dahulu mempelai pengantin dikirab dengan tandu (jempana) dan kuda mengitari benteng keraton. Seiring berjalannya waktu dan berbagai kondisi, jalur prosesi kirab disederhanakan. Prosesi kirab inilah yang banyak dinantikan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara. Sepanjang jalur prosesi kirab, jalanan dipenuhi masyarakat yang tumpah ruah untuk menyaksikan iring-iringan pengantin kerajaan ini.

12. Resepsi

Sesampainya di Kepatihan, prosesi resepsi dilaksanakan. Yang membedakan resepsi dhaup ageng dengan resepsi pada umumnya adalah ditampilkannya tarian-tarian adat Kraton Yogyakarta. Tarian yang ditampilkan dalam upacara resepsi pernikahan keraton adalah Beksan Bedaya Manten (Sanghaskara) dan Lawung Ageng. Bedaya Manten ditarikan oleh enam penari wanita yang masih gadis. Dua penari wanita berperan sebagai sepasang pengantin, dan empat lainnya sebagai penari Srimpi. Tarian ini menyimbolkan perjalanan kedua pasang mempelai menuju gerbang rumah tangga. Sedangkan Beksan Lawung Ageng ditarikan oleh 12 penari pria. Tarian ini merupakan tarian keprajuritan (ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I), yang mengisahkan jiwa patriotisme yang tertanam dalam sanubari para prajurit Yogyakarta.


Resepsi dhaup ageng GKR Hayu & KPH Notonegoro yang digelar di Bangsal Kasatriyan menampilkan Tari Bedhaya Manten (Sanghaskara) .
Sumber: Tepas Tandha Yekti
13. Pamitan

Setelah resepsi usai diselenggarakan, kedua mempelai pengantin melakukan prosesi terakhir rangkaian pernikahan yaitu pamitan. Pada masa sebelum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, upacara ini dikenal dengan nama Upacara Jangan Menir. Pasangan pengantin akan mengenakan busana Jangan Menir, dimana pengantin putri khususnya masih mengenakan paes. Upacara Jangan Menir disederhanakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX dimana pasangan pengantin berikut besan memohon pamit untuk meninggalkan keraton menuju kediaman masing-masing. Sejak dulu, setelah menikah baik putra maupun putri Sultan akan keluar dari keraton untuk tinggal bersama pasangannya masing-masing membina rumah tangga baru.

TATA PEMERINTAHAN