Warisan Budaya Tak Benda

Gendhing Soran Volume 1

1814 | Senin, 21 Juni 2021 admin

Dalam karawitan gaya Yogyakarta, gendhing diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan teknik  memainkannya, yakni Gendhing Lirihan dan Gendhing Soran. ‘Soran’ berasal dari ‘sora’, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti lantang. Teknik soran merupakan cara menyajikan gendhing dengan volume keras. Karawitan gaya Yogyakarta berpedoman pada prinsip prasaja yang berarti sederhana, greget (semangat), mungguh (serasi), dan agung (berwibawa). Sifat-sifat itulah yang tersaji dalam gendhing-gendhingnya. 

Dalam pagelaran Uyon-Uyon, Gendhing Soran selalu ditampilkan di awal, dengan tujuan menggugah rasa dan semangat. Gendhing Soran juga sering dimainkan sebagai penanda dimulainya acara (nguyu-uyu), misalnya dalam pertunjukan kesenian seperti wayang kulit, ketoprak, dan wayang wong.

Berikut ciri khas gendhing soran

  1. Selalu dibunyikan pada awal pertunjukan.
  2. Instrumen gamelan yang dimainkan adalah yang menghasilkan suara keras, yaitu;
    1. Kendhang (kendhang ageng/bem dan kendhang ketipung)
    2. Kendang penunthung (untuk gendhing-gendhing tertentu)
    3. Bedhug (untuk gendhing-gendhing tertentu)
    4. Bonang barung
    5. Bonang panerus
    6. Bonang panembung (untuk gamelan tertentu)
    7. Saron demung
    8. Saron ricik
    9. Peking/Saron panerus (bisa digantikan dengan instrumen Cluring)
    10. Slenthem
    11. Slentho (untuk gamelan tertentu)
    12. Gambang gangsa (untuk gamelan tertentu)
    13. Kenong kethuk
    14. Kenong japan
    15. Kempyang (untuk laras pelog)
    16. Engkuk kemong (untuk laras slendro pada gamelan tertentu)
    17. Kempul 
    18. Gong
    19. Suwukan (untuk gendhing tertentu)
  3. Instrumen gamelan yang menghasilkan suara halus atau lembut, seperti gender barung, gender panerus, siter, clempung, gambang, suling, rebab, dan vokal (suara manusia) tidak disertakan dalam sajian gendhing soran. Kendhang batangan juga tidak.

Pada Senin, 21 Juni 2021 bertepatan dengan Hari Musik Dunia, KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta merilis Album Gendhing Soran Volume 1. Album tersebut berisi 11 gendhing yang telah direkam pada 22-24 Mei 2021 di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Gendhing Babat, Gendhing Kagok Liwung, Gendhing Panji Pengasih, Gendhing Tri Tunggal, dan Gendhing Wulan Karahinan dibunyikan dengan menggunakan gangsa atau gamelan Kanjeng Kiai Madumurti. Sementara Gendhing Aji Saka, Gendhing Babar Layar, Gendhing Bangun Sore, Gendhing Mara Seba, Gendhing Nawa dan Gendhing Udan Mas dibunyikan dengan menggunakan gamelan Kanjeng Kiai Madukusuma. Kedua gamelan tersebut dibuat pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Mas Wedana Susilomadya bertindak sebagai penata gendhing dan penulis notasi untuk keperluan rekaman.

1. Gendhing Aji Saka, Laras Pelog, Pathet Lima, Ladrang Gangsaran Bima Kurda, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Aji Saka
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Lima
Jenis Kendhangan Ladrang Gangsaran Bima Kurda
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing ini diciptakan pada 10 November 2020 sebagai salah satu iringan Beksan Aji Saka. Beksan Aji Saka merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 yang dipergelarkan perdana 5 Desember 2020 dalam Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Beksan ini ditampilkan kembali pada 1 Februari 2021 dalam pertunjukan Uyon-Uyon Hadiluhung di Bangsal Manis. Tarian tersebut diilhami dari Serat Ajisaka yang ditulis sendiri oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 sebagai pemaknaan di balik tulisan aksara Jawa. Aji Saka merupakan nama tokoh legenda dalam sejarah lahirnya aksara Jawa. 

Gendhing (Ladrang) Aji Saka memiliki laras pelog dan pathet lima yang bernuasa tenang, agung, dan berwibawa. Dalam Beksan Aji Saka, gendhing tersebut diperkaya dengan alunan instrumen musik barat; tiup dan perkusi. Saat direkam, Gendhing Aji Saka dimainkan hanya dengan instrumen gamelan. Gendhing ini diawali dengan gangsaran laras 1, kemudian memasuki rambatan tumuju ladrang, selanjutnya dados, ngelik, rog-rog asem, lalu kembali ke gangsaran, dan diakhir suwuk atau berhenti. 

Gendhing Aji Saka memiliki makna filosofis terkait perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga mati yang penuh warna dan dinamika. Hal tersebut ditunjukkan dengan jalinan nada dan varian irama yang dinamis. Bagian irama dados menggambarkan ketenangan hidup, sedangkan irama ngelik melukiskan pergolakan atau dinamika. Gendhing ini diakhiri dengan gangsaran suwuk gropak yang menggambarkan bahwa manusia telah menyelesaikan tugasnya di dunia akan menghadap Sang Pencipta.

2. Gendhing Babar Layar, Laras Pelog, Pathet Lima, Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Babar Layar
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Lima
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Tidak diketahui kapan Ladrang Babar Layar diciptakan. Gendhing ini merupakan salah satu di antara sekian banyak gendhing yang tercatat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Pelog karya Raden Tumenggung Kertanegara yang diselesaikan tahun 1819 Jawa/ 1888 Masehi dan dihimpun oleh KRT Wiroguno. Ladrang Babar Layar merupakan bentuk lain dari Gendhing Babar Layar Pelog Lima dengan jenis kendhangan mawur.

Babar Layar berarti layar yang terbuka atau terbentang dan siap mengarungi lautan dengan segala rintangannya. Ini menyimbolkan peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan hidup manusia, seperti pernikahan, pekerjaan, anugerah gelar kebangsawanan, kepangkatan, kepemilikan rumah, dan sebagainya. Gendhing ini termasuk salah satu gendhing populer dan sering dibunyikan hingga pelosok desa.

3. Gendhing Mara Seba, Laras Pelog, Pathet Nem, Semang, Kendhang Setunggal.

Nama Gendhing Mara Seba
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Semang
Jenis Kendhang Setunggal
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing ini juga termuat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Pelog dan tidak diketahui kapan Gendhing Mara Seba diciptakan. ‘Mara seba’ berarti datang menghadap dalam konteks hubungan rakyat dan rajanya. Ciri Gendhing Mara Seba adalah memiliki dua laras, yaitu laras pelog pathet nem dan laras pelog pathet barang. Gendhing ini dapat disajikan secara soran dan juga lirihan, dengan melibatkan gender, rebab, gambang, suling, siter, dan sebagainya. Ciri lain gendhing ini termasuk salah satu gendhing dengan kendangan semang dalam laras pelog yang bagian dhawah-nya disajikan dengan cara imbal demung dan saron pancer

4. Gendhing Nawa, Laras Pelog, Pathet Nem, Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Nawa
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Nawa diciptakan oleh KRT Wiroguno pada 1922. KRT Wiroguno merupakan ahli karawitan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). ‘Nawa’ bisa berarti sembilan, bisa juga berarti tindakan untuk menghindari hal-hal buruk. Ciri Gendhing Nawa terletak pada dua gongan yang masing-masing memiliki rasa seleh anteb. Ciri lainnya, gendhing ini memiliki dua laras, yaitu pelog pathet nem dan pelog pathet barang.

5. Gendhing Udan Mas, Laras Pelog, Pathet Nem, Bibaran, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Udan Mas
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Bibaran
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Tidak diketahui kapan gendhing ini diciptakan. Gendhing Udan Mas juga termuat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Pelog. Udan mas atau hujan emas menyiratkan kegembiraan dan keberuntungan.

Gendhing ini populer di masyarakat dan biasanya dibunyikan sebagai penanda berakhirnya pertunjukan. Secara umum, gendhing ini dibunyikan dalam laras pelog pathet barang. Namun, mengikuti petunjuk yang tertulis dalam sumber di atas, Gendhing Udan Mas dalam rekaman dibunyikan dalam laras pelog pathet nem.

6. Gendhing Wulan Karahinan, Laras Slendro, Pathet Nem, Jangga, Kendhang Setunggal.

Nama Gendhing Wulan Karahinan
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Jangga
Jenis Kendhang Setunggal
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Wulan Karahinan juga termuat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Slendro. Tidak diketahui pula kapan gendhing ini diciptakan. Wulan karahinan berarti bulan kesiangan atau bulan yang masih tampak pada waktu siang hari. Gendhing Wulan Karahinan dapat dibunyikan dalam garap soran maupun lirihan. Ciri gendhing ini ada pada bagian dhawah yang tidak menggunakan teknik tabuhan imbal demung, melainkan balungan mlampah.

7. Gendhing Babat, Laras Slendro, Pathet Nem, Candra, Kendhang Setunggal.

Nama Gendhing Babat
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Candra
Jenis Kendhang Setunggal
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Babat ini juga dimuat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Slendro, namun tidak diketahui kapan gendhing ini diciptakan. Kata ‘babat’ (atau ‘babad’) memiliki makna dibuka atau dimulai sehingga gendhing ini sering dimainkan sebagai pembuka pementasan karawitan. Gendhing ini memiliki ciri kendangan candra, namun bagian dhawah-nya bukan imbal demung, melainkan balungan mlampah dan ngracik.

8. Gendhing Tri Tunggal, Laras Slendro, Pathet Nem, Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Tri Tunggal
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Ladrang Tri Tunggal diciptakan pada kurun waktu 1970, berkat inisiatif beberapa Abdi Dalem Wiyaga pada masa itu. Tri tunggal berarti tiga menjadi satu, yang dalam konteks ini merupakan gabungan tiga gendhing menjadi satu repertoar gendhing baru. Ketiga gendhing tersebut adalah Ladrang Babad Kenceng, Ladrang Girang-Girang, dan Ladrang Eling-Eling Kagok

Ciri gendhing ini adalah adanya dua garap balungan, yaitu imbal demung dan balungan mlampah. Selain berwatak gagah, gendhing ini juga bernuansa semangat dan gembira silih berganti.

9. Gendhing Kagok Liwung, Laras Slendro, Pathet Nem, Ladrang Gangsaran, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Kagok Liwung
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Gangsaran
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Kagok Liwung ditulis dalam buku Gendhing-Gendhing Mataraman Saking Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dihimpun oleh Raden Bekel Wulan Karahinan dan Raden Ladrang Tomo diterbitkan pada 1991. Gendhing ini juga tidak diketahui masa penciptaannya. 

Kagok Liwung memiliki arti seakan-akan atau cenderung naik (melambung). ‘Liwung’ juga bisa diartikan marah atau mengamuk. Gendhing ini dirangkai dengan gendhing gangsaran sebelum dan sesudahnya. Gendhing Kagok Liwung memiliki karakter gagah, semangat, heroik, dan menggebu-gebu serta termasuk gendhing populer yang sering dibunyikan hingga pelosok desa. Dalam keseharian, gendhing ini sering dialunkan sebagai pembuka dalam pementasan ketoprak di Yogyakarta.

10. Gendhing Bangun Sore, Laras Pelog, Pathet Barang, Sarayuda, Kendhang Setunggal.

Nama Gendhing Bangun Sore
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Barang
Jenis Kendhangan Sarayuda
Jenis Kendhang Setunggal
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Bangun Sore diciptakan oleh KRT Wiroguno pada 1924. KRT Wiroguno merupakan ahli karawitan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Gendhing ini dimuat dalam buku Gendhing-Gendhing Mataraman Gaya Yogyakarta Jilid I yang disusun oleh Raden Bekel Wulan Karahinan pada 1991. Raden Bekel Wulan Karahinan adalah Abdi Dalem Wiyaga di Keraton Yogyakarta.

‘Bangun sore’ merujuk pada suasana menjelang petang, antara pukul 16.00-17.00. Suasana alam pada waktu-waktu itu sangat pas untuk menikmati alunan gendhing ini dengan laras pelog pathet barang. Gendhing Bangun Sore memiliki ciri menggunakan kendangan sarayuda, yang tidak disertai dengan imbal demung pada bagian dhawah

11. Gendhing Panji Pengasih, Laras Slendro, Pathet Manyura, Ketawang Bedhugan, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Panji Pengasih
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Manyura
Jenis Kendhangan Ketawang Bedhugan
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Panji Pengasih ini juga termuat dalam Serat Wiled Berdangga Laras Slendro. Tidak diketahui kapan gendhing ini diciptakan. Panji punya beberapa arti, antara lain bendera, keturunan raja, atau nama kepangkatan dalam kerajaan. Panji Pengasih bermakna pemimpin yang menebar kebaikan dan kasih sayang. Selain digunakan sebagai Gendhing Soran, Gendhing Panji Pengasih juga sering dipakai untuk mengiringi beksan topeng yang mengambil epos cerita Panji. 

Gendhing ini memiliki ciri menggunakan instrumen bedhug. Pada bagian sesegan lamba, bunyi tabuhan bedhug menambah nuansa gagah, agung, dan berwibawa. Ciri lainnya adalah akhir gendhing yang diisi suwuk gropak, yaitu irama gendhing semakin cepat lalu berhenti tiba-tiba.


Daftar Pustaka 

Raden Bekel Wulan Karahinan. 1991. Gendhing-Gendhing Mataraman Gaya Yogyakarta dan Cara Menabuh Jilid I. Yogyakarta: KHP Kridha Mardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

RM Suyamto, dkk. 2008. KRT Wiroguno: Riwayat, Hasil Karya, dan Pengabdiannya. Surakarta: ISI Press Surakarta

Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 25 Mei 2021

TATA PEMERINTAHAN