Tata Rakiting Wewangunan

Alun-Alun Yogyakarta

771 | Selasa, 04 September 2018 admin Alun-alun Selatan

Alun-alun Selatan

Semenjak jaman Majapahit, keberadaan alun-alun dalam ruang lingkup kerajaan selalu dipertahankan. Alun-alun adalah manifestasi ruang publik, menjadi bagian tak terpisahkan dari tata ruang ibukota kerajaan. Konsep ini kemudian diadaptasi oleh kota-kota di Indonesia, di mana sebuah ruang terbuka disediakan tepat di depan pusat pemerintahan.

Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Yogyakarta, mahir dalam ilmu filsafat maupun arsitektur. Gabungan dari keahlian-keahlian beliau inilah yang mewarnai struktur tata ruang Kasultanan Yogyakarta dengan simbol-simbol penuh makna.

Keraton Yogyakarta maupun bangunan-bangunan pendukungnya ditempatkan pada sebuah rangkaian pola, yang didasarkan pada sumbu filosofis, garis imajiner yang membentang lurus antara Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak. Termasuk diantaranya dua alun-alun yang dimiliki oleh keraton, Alun-Alun Selatan dan Alun-Alun Utara.

Alun-Alun Selatan

Alun-Alun Selatan

Alun-alun Selatan juga dikenal dengan nama Alun-Alun Pengkeran (Alun-Alun Belakang). Letaknya masih berada di dalam benteng keraton, di tengahnya ditanam dua buah pohon beringin. Beringin ini dinamakan supit urang dan diberi pagar keliling sehingga juga dikenal sebagai Ringin Kurung. Pagar yang mengelilingi dua batang pohon ini diberi ornamen berupa bulatan dan bentuk-bentuk busur. Sedang di bagian pinggirnya terdapat pohon pakel (mangga) dan pohon kweni, sebagai perlambang kedewasaan (akil baligh) dan keberanian (wani).

Alun-Alun Selatan yang berukuran 150 x 150 meter dikelilingi pagar setinggi 2 meter dan lima bukaan sebagai jalan keluar masuk. Kelima jalan tersebut adalah Jalan Langenastran Kidul, Jalan Langenastran Lor, Jalan Ngadisuryan, Jalan Patehan Lor, dan Jalan Gading. Jalan-jalan ini melambangkan kelima indera manusia. Pada sisi sebelah barat, dekat Jalan Ngadisuryan, terdapat kandang gajah milik keraton.

Permukaan alun-alun ditutup dengan pasir. Hamparan pasir tersebut adalah perlambang bahwa indera kita masih labil dan mudah berubah serta tidak teratur, laksana pasir. Inilah yang terjadi pada manusia saat memasuki masa-masa akil balig, yang dilambangkan dengan wujud pertemuan pemuda dan pemudi dalam bentuk beringin tadi.

Fungsi utama Alun-alun Selatan ini dulunya adalah sebagai tempat berlatih para prajurit kraton, serta sebagai tempat pemeriksaan pasukan menjelang upacara Garebeg. Kini Alun-Alun Selatan menjadi tempat orang berwisata. Pada malam hari banyak penjaja makanan dan kereta kayuh yang disewakan. Terdapat juga kegiatan masangin, yaitu masuk di antara pohon beringin. Pengunjung berusaha berjalan melewati kedua pohon beringin dengan menggunakan penutup mata.

Alun-alun Utara

Alun-Alun Utara

Alun-Alun Utara membentang seluas 300 x 300 meter persegi. Di tengahnya berdiri dua buah beringin kurung yang bernama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru (yang sekarang bernama Kiai Wijayadaru). Menurut Serat Salokapatra, benih Kiai Janadaru berasal dari Keraton Pajajaran, sementara Kiai Dewadaru benihnya berasal dari Keraton Majapahit.

Kiai Dewadaru berasal dari kata dewa yang berarti Tuhan dan ndaru yang berarti wahyu. Pohon ini berada di sebelah barat dari garis sumbu filosofis. Bersama-sama dengan Masjid Gedhe yang juga berada di sebelah barat garis sumbu filosofis, pohon ini memberi gambaran hubungan manusia dengan Tuhannya. Penempatan ini adalah wujud bagaimana Sri Sultan Hamengku Buwono I secara cerdas menggambarkan konsep Islam habluminallah.

Sementara Kiai Janadaru yang bermakna lugas pohon manusia, bersama dengan Pasar Beringharjo, berada di sisi timur dari sumbu filosofis. Hal ini melambangkan hubungan manusia dengan manusia, sebuah konsep Islam hablumminannas.

Pada sisi utara dan sisi selatan, berdiri juga sepasang pohon beringin. Beringin di utara bernama Kiai Wok dan Kiai Jenggot, sedang yang di selatan bernama Agung dan Binatur.

Sebagaimana Alun-alun Selatan, seluruh permukaan Alun-alun Utara juga ditutup dengan pasir lembut. Hal ini merupakan penggambaran laut tak berpantai yang merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan. Maka secara keseluruhan, makna alun-alun beserta kedua pohon beringin di tengahnya menggambarkan konsepsi manunggaling kawula Gusti, bersatunya raja rakyat dengan raja dan bertemunya manusia dengan Tuhan.

Terdapat 62 pohon beringin mengelilingi Alun-Alun Utara. Beserta dua beringin di tengah, total terdapat 64 pohon beringin. Jumlah ini menggambarkan usia Nabi Muhammad SAW ketika beliau meninggal dalam perhitungan Jawa.

Pada masa lalu, Alun-Alun Utara dikelilingi oleh pagar batu bata dan selokan. Air selokan ini dapat digunakan untuk menggenangi alun-alun saat dibutuhkan. Di antara pohon beringin yang berjajar, terdapat beberapa bangunan bernama Bangsal Pekapalan. Pekapalan, berasal dari kata kapal yang berarti kuda. Secara harfiah pekapalan berarti tempat penambatan kuda. Bangsal Pekapalan merupakan tempat berkumpulnya para bupati maupun pejabat yang lebih tinggi. Selain Pekapalan, terdapat bangsal lain di pinggir alun-alun, yaitu Bangsal Pangurakan dan Bangsal Balemangu.??

Bangsal Pangurakan terdapat di sisi utara, berjumlah dua dan mengapit jalan. Fungsinya sebagai tempat ngurak, mengusir warga yang tidak taat pada aturan. Selain itu, Bangsal Pangurakan juga digunakan untuk menyimpan senjata. Setiap hari, bangsal ini dijaga oleh Abdi Dalem Geladhag.??

Bangsal Balemangu juga berjumlah dua, letaknya mengapit gerbang menuju Masjid Gedhe. Bangsal ini digunakan sebagai tempat untuk pengadilan agama.

Selain sebagai tempat berlangsungnya acara-acara yang diadakan Kesultanan Yogyakarta, Alun-Alun Utara juga menjadi tempat jika ada masyarakat yang ingin mengadukan persoalan kepada Sultan. Rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil akan berpakaian putih, duduk di bawah panas matahari (pepe) di tengah alun-alun hingga Sultan melihat dan memanggilnya. Praktek mengadukan nasib di bawah sengatan matahari ini disebut laku pepe atau tapa pepe.

Alun-Alun yang membentang di muka Keraton Yogyakarta maupun yang berada di pungkuran, bukanlah semata ruang terbuka untuk menampung segala akitivitas khas warga kota seperti yang terlihat saat ini. Kehadiran Alun-Alun ini memenuhi berbagai fungsi dan peran keraton sebagai pusat pemerintahan. Ruang terbuka luas ini menjadi perangkai berbagai elemen kawasan di sekitarnya, baik secara tata ruang maupun secara sosial. Misalnya antara keraton dan Masjid Gedhe, atau antara Sultan dan rakyatnya.

Denah Alun-alun Utara dan Selatan


Daftar Pustaka:
Anonim. 1956. Kota Jogjakarta, 200 tahun, 7 Oktober 1756 - 7 Oktober 1956. Yogyakarta: Panitia Peringatan Kota Jogjakarta 200 th.
Darto Harnoko. 2001.Fungsi, Arti Serta Makna Bangunan Kraton Yogyakarta dan Sekitarnya, dalam Jurnal Kebudayaan KABANARAN. Yogyakarta: vol.1, Retno Aji Mataram Press Yayasan Pustaka Nusatama, p.91-112.
Djoko Dwiyanto, dkk. 2010. Ensiklopedia Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.
Djoko Marihandono. 2007. Perubahan Peran dan Fungsi Benteng dalam Tata Ruang Kota, Seminar Kebudayaan Maritim.
Dyah Widiyastuti. 2012. Memorable Square: Identities, Meanings and the Production of Urban Space in Yogyakarta, Indonesia dalam Proceedings REAL CORP “RE-MIXING THE CITY - Towards Sustainability and Resillience.
Handinoto. 1992. Alun-alun Sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang. Surabaya: Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra.
Panja Sunyata. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton: Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wawancara K.R.T Widya Anindito pada Diskusi Danapratapa, 2016

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN