Tata Rakiting Wewangunan

Makna Vegetasi di Keraton Yogyakarta

2557 | Selasa, 07 September 2021 admin

Vegetasi dalam tata ruang sebuah kota memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai perindang, penyerap polusi udara, pemelihara air tanah, dan penahan angin. Dalam tata ruang Yogyakarta yang dirancang oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I), vegetasi yang ada juga memiliki fungsi sebagai simbol ajaran Jawa. Beberapa pohon yang ditanam pada ruas-ruas jalan utama dan lingkungan keraton mengandung filosofi tersendiri, baik dari jenis tanaman maupun dalam kaitannya dengan lokasi di mana tumbuhan itu ditanam.

Beberapa jenis tanaman itu ialah,


Beringin 

Ada dua macam beringin yang ditanam di Keraton Yogyakarta, yaitu beringin yang kita kenal pada umumnya (Ficus benjamina) dan beringin preh (Ficus ribes). Keduanya memiliki makna yang sama. Saat ini pohon beringin terdapat di Alun-Alun Utara, Plataran Kamandungan Lor, Plataran Kemagangan, dan Alun-Alun Selatan. Di Alun-Alun Utara, pohon beringin ditanam keliling. Persis di tengah alun-alun, baik Alun-Alun Utara maupun Alun-Alun Selatan, ditanam sepasang pohon beringin yang diberi pagar. 

Di Jawa, pohon beringin dianggap sebagai pohon hayat atau pohon kehidupan. Pohon ini dapat tumbuh sangat besar, efektif dalam menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Tajuk daunnya lebar, membuat pohon beringin sangat baik dalam memberi keteduhan. 

Pohon beringin memiliki makna keteduhan dan pengayoman, bahwa Sultan sebagai raja akan senantiasa mengayomi rakyatnya.


Gayam 

Pohon gayam (Inocarpus edulis) ditanam di sepanjang Jalan Margatama, Malioboro, hingga Margamulya. Jalan-jalan tersebut membentang dari Tugu Golong Gilig hingga ke titik nol Yogyakarta. Selain itu, pohon gayam juga ditanam di sebelah selatan Bangsal Pagelaran pada jalan menuju Siti Hinggil dan di Alun-Alun Selatan.

Pohon gayam memiliki sistem perakaran yang dalam dan padat, tajuk daun yang lebar, dan bunga yang wangi. Akarnya memiliki kemampuan menyimpan dan menjernihkan air. 

Bentuk buahnya yang berbentuk bulat sedikit meruncing menjadi nama bagi bentuk warangka keris yang disebut gayaman.

Pohon gayam memiliki makna ayem, rasa damai dan ketenangan hati.


Asam Jawa 

Bersama pohon gayam, asam jawa (Tamarindus indica) juga terdapat di sepanjang Jalan Margatama, Malioboro, hingga Margamulya. Selain itu, pohon asam juga ditanam bersama pohon tanjung di sepanjang Jalan D.I. Panjaitan.

Pohon asam jawa tumbuh tinggi dan besar, daunnya kecil-kecil, dan tajuknya berbentuk bulat.

Pohon asam jawa, atau disebut juga pohon asem, memiliki makna kasengsem yang berarti tertarik.  Daun mudanya yang bernama sinom, sama seperti nama rambut halus pada dahi perempuan. Memiliki makna anom yang berarti muda, karena itu pohon asam jawa juga bisa diibaratkan sebagai kemudaan atau gadis muda.

Tanjung

Pohon tanjung (Mimusops elengi) ditanam bersama pohon asam jawa di sepanjang Jalan D.I. Panjaitan, jalan yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Alun-Alun Selatan. Kini juga banyak ditemui di jalan-jalan yang mengelilingi tembok benteng keraton. 

Pohon tanjung memiliki tajuk daun berbentuk bulat. Selain memiliki kemampuan menyerap bau-bau yang tidak sedap, pohon tanjung juga memiliki bunga berwarna putih kekuningan yang harum baunya. Bau dari bunga tanjung ini tidak disukai oleh ular sehingga pohon ini juga dimanfaatkan sebagai pengusir ular.

Pohon ini dianggap pohon suci bagi umat Hindu di India, keberadaannya sering muncul dalam berbagai cerita religi dan literatur Sanskerta kuno.Bahkan pada prasasti Siwagrha (856 M), pohon tanjung dianggap sebagai tangga bagi dewa yang turun ke bumi.

Pohon tanjung dapat dimaknai sebagai tansah disanjung, atau selalu disanjung.

Sawo Kecik

Pohon sawo kecik (Manilkara kauki) banyakditanam di Plataran Kedhaton dan rumah para bangsawan. Buah sawo kecik berukuran kecil dan berwarna merah. Walau bentuknya berbeda dengan buah sawo pada umumnya, namun rasa buah sawo kecik tidak banyak berbeda. Kayu sawo kecik termasuk dalam kayu yang berkualitas baik dan sangat disukai oleh pengukir Bali.

Sawo kecik dimaknai sebagai sarwa becik, atau serba baik.


Kemuning 

Pohon kemuning (Murraya paniculata) ditanam di Siti Hinggil Lor, tepatnya di belakang Bangsal Witana. Pohon kemuning memiliki daun-daun yang kecil dan berbunga sepanjang tahun. Bunganya berwarna putih dan kecil, sedang buahnya yang telah masak berwarna merah. Saat pohon kemuning sedang berbunga akan menyebarkan bau harum yang semerbak. Pohon ini dipercayai mampu menolak tenung atau pun ilmu-ilmu hitam yang lain.

Kemuning dimaknai sebagai ning yang berarti hening, atau weninging pikir yang berarti kejernihan pikiran. Pohon ini melambangkan kesucian dan pikiran yang jernih.

Keben

Selain dapat ditemui di halaman Masjid Gedhe, pohon keben (Barringtonia asiatica) juga ditanam di Plataran Kamandungan Lor. Bahkan, masyarakat kebanyakan lebih mengenal pelataran ini sebagai Plataran Keben dibanding nama aslinya.

Pohon keben berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Bentuk buahnya yang unik digunakan dalam desain ornamen Jawa, kebenan. Buah keben juga dapat digunakan sebagai obat sakit kulit.

Di Jawa, pohon keben disamakan dengan pohon bodhi (Ficus religiosa), pohon di mana Sang Buddha mendapatkan pencerahan. 

Ada beberapa pemaknaan akan pohon keben. Ada yang memaknainya sebagai pohon perdamaian.  Ada yang memaknainya sebagai tangkeb-en, atau menutup, yang dimaksud adalah menutup segala pengaruh hawa nafsu. Ada pula yang memaknainya sebagai hangrukebi, atau melindungi.

Konon, dalam sebuah pertempuran melawan VOC, Pangeran Mangkubumi beserta keluarganya pernah berlindung di bawah pohon ini. Selama berhari-hari, tidak ada satu pun buah keben yang jatuh menimpa anak-anak maupun pengikutnya. Untuk mengenang jasanya, Pangeran Mangkubumi menanam pohon ini saat membangun Keraton Yogyakarta.


Mangga 

Pohon mangga (Mangifera indica) banyak ditanam di keraton, antara lain di Alun-Alun Selatan dan Plataran Srimanganti.

Dalam bahasa Jawa, mangga disebut sebagai pelem. Pelem dimaknai sebagai pada gelem, sama-sama berkehendak, melambangkan kebersamaan.

Jambu Dersana 

Jambu dersana (Syzgium malaccense/Eugenia malaccensis) dapat ditemui di Plataran Kamandungan Kidul, Plataran Kemagangan, Plataran Srimanganti, dan Plataran Kamandungan Lor. 

Jambu dersana lebih dikenal sebagai jambu bol. Buahnya mirip dengan jambu air dan berwarna merah. Jambu dersana sebagai darsana yang berarti teladan, bisa juga sebagai kaderesan sih ing sesama yang berarti kasih sayang pada sesama.

Jambu Klampok Arum 

Jambu klampok arum (Syzygium jambos) dapat ditemui di Plataran Srimanganti dan Plataran Kamandungan Lor.

Jambu klampok arum, kadang ditulis tlampok arum, juga dikenal sebagai jambu keraton atau jambu mawar. 

Jambu yang sangat harum ini menyiratkan makna bahwa seyogianya manusia bersikap arum atau harum, selalu baik dalam berucap maupun bertindak. Jambu ini juga melambangkan harapan agar Sultan dan keraton dapat terus harum namanya.


Kepel 

Terdapat dua macam pohon kepel yang dikenal di Keraton Yogyakarta, yaitu pohon kepel (Stelechocarpus burahol) dan pohon kecindul (Cynometra cauliflora).

Pohon kepel dapat ditemui di Plataran Kemagangan, Plataran Srimanganti, dan Plataran Kamandungan Lor. Pohon kepel memiliki batang yang lurus, daunnya rimbun, buahnya bulat berwarna cokelat menggantung pada pokok batangnya. Selain dapat dimakan, buahnya juga dapat menghilangkan bau badan, bahkan mengurangi bau air seni. Daerah Istimewa Yogyakarta memilih tanaman ini sebagai flora identitas kota. Keberadaannya telah disahkan dalam SK Menteri Dalam Negeri No. 522.5/1458/SJ/1990.

Pohon kecindul dikenal di Keraton Yogyakarta sebagai pohon kepel watu. Pohon ini dapat ditemui di Plataran Siti Hinggil Lor. Seperti pohon kepel, pohon kecindul juga memiliki bunga dan buah yang tumbuh di batang pokok. Pohon ini dipercaya dapat meredam amarah dan rasa benci, juga sebagai penawar ilmu kesaktian.

Kepel dimaknai dengan namanya yang berarti tangan yang mengepal, melambangkan tekad dan kemauan untuk bekerja. Kepel juga dimaknai sebagai kempel atau kumpul, melambangkan persatuan.

Mengenal jenis dan memahami makna yang dikandung tanaman di lingkungan Keraton Yogyakarta tidak hanya mendorong pelestarian keanekaragaman hayati khas Yogyakarta. Mengenal tanaman-tanaman tersebut adalah bagian dari mengenal dan memahami cara pandang, nilai-nilai budi pekerti, dan kearifan lokal masyarakat Jawa.

 


Daftar Pustaka:

Anonim. 1999. 500 Popular Tropical Plants. Hongkong: Periplus Editions.

Dahlan, Endes Nurfilmarasa. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Bogor: IPB Press.

Pantja Sunjata, I.W. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton: Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Partomiharjo, Tukirin. 2014. Jenis-Jenis Pohon Penting di Nusakambangan. Jakarta: LIPI Press.

Sischa H.H, Angine. 2017. Tata Letak Pohon di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Menurut Filosofi, Fungsi dan Arsitektur Pohon. Skripsi, Program Studi S1 Budidaya Hutan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Soenarto, D. 2013. Kesetiaan Abdi Dalem. Yogyakarta: Kepel Press.

Tim Puspar UGM. 2004. Wawasan Budaya untuk Pembangunan: Menoleh Kearifan Lokal. Yogyakarta: Pilar Politika.

Whitten, Tony., dkk.1996. The Ecology of Java and Bali. Hongkong: Periplus.

Wawancara dengan KRT Widya Aninditya pada Danapratapa Episode: Tata Ruang Kota Yogyakarta, produksi Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta 2016.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN