Mas Ngabehi Surakso Budoyo, Penjaga Situs Dlepih

img_3k7UrKe.jpg
Selasa, 26 Juni 2018 admin

Labuhan merupakan upacara adat yang secara rutin dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Upacara ini dilakukan di tempat-tempat tertentu yang dikenal sebagai Patilasan. Tempat-tempat yang memiliki arti khusus bagi keraton hingga perlu dirawat.

Tempat-tempat tersebut adalah Pantai Parangkusuma, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih. Labuhan dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem, peringatan kenaikan takhta Sultan berdasar kalender Jawa. Khusus di Dlepih, tepatnya di Kahyangan, Labuhan hanya diselenggarakan saat Labuhan Ageng (besar) yang jatuh tiap sewindu atau delapan tahun sekali yang bertepatan pada tahun Dal.

Lokasi-lokasi labuhan dijaga dan dipelihara oleh juru kunci yang diangkat sebagai Abdi Dalem oleh keraton. Di Kahyangan, Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, salah satu Abdi Dalem yang ditugaskan untuk menjaganya adalah Mas Ngabehi Surakso Budoyo.

Geger Sepehi

img_GzAw9fy.jpg
Selasa, 19 Juni 2018 admin

Kurun waktu 1808 sampai dengan 1812 adalah tahun-tahun yang banyak mengubah wajah Yogyakarta. Gelombang Revolusi Perancis diikuti oleh masa “Peperangan era Napoleon”. Kecamuk di Eropa tersebut membawa dampak tak terlupakan bagi salah satu kerajaan Jawa yang ada pada masa itu, Kesultanan Yogyakarta. Setelah Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Perancis, Bataafsche Republiek yang berkuasa di Nusantara dihapus dan digantikan dengan Koninkrijk Holland di bawah pimpinan Raja Louis Napoleon Bonaparte.

KPH Pujaningrat, Duta Yogyakarta di Pentas Dunia

img_jbE9FbE.jpg
Selasa, 29 Mei 2018 admin

KPH Pujaningrat tak bisa dilepaskan dari kesenian, khususnya tari. Sejak usia belia ia menggeluti kesenian, dan kini di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun perhatiannya terhadap bidang ini tak surut.

“Waktu SMP saya sudah menjadi ketua bagian kesenian,” tutur Penghageng II Kawedanan Hageng Sri Wandawa ini. “Di SMA juga begitu. Bahkan di UGM saya termasuk yang mendirikan unit kegiatan tari, Swagayugama.”

Kepiawaiannya dalam menari gagrak Yogyakarta telah membawanya melanglang Nusantara bahkan dunia. Ia pun terlibat dalam momen-momen penting, seperti penyerahan kedaulatan Irian Barat dari Belanda ke Indonesia.

“(Waktu kuliah) saya pernah dikirim ke Irian Jaya pas penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia bersama-sama dengan mahasiwa dari universitas Indonesia, universitas Padjajaran, dan universitas Udayana untuk pentas di sana.”

Nyi ML Hamong Harjomulyo Sarjoyo, Cermin Perempuan Indonesia di Keraton Yogyakarta

img_Y2NL2Ak.jpg
Senin, 23 April 2018 admin

Sama seperti pekerja di bidang lain, Abdi Dalem keraton seringkali harus mengkompromikan tugas mencari nafkah dan mengurus keluarga. Tak heran beberapa Abdi Dalem kerap membawa anak atau cucu mereka saat bertugas. Keraton yang menghargai nilai-nilai keluarga dan memperhatikan kesejahteraan Abdi Dalem-nya tidak mempermasalahkan hal ini selama tak ada tata krama yang dilanggar.

Nyi Mas Lurah Hamong Harjomulyo Sarjoyo atau biasa dipanggil Bu Tutik, karena nama aslinya adalah Semi Astuti, adalah salah satu Abdi Dalem yang sering membawa anaknya bertugas di keraton. Mela, putri kecilnya, menjadi sumber kelucuan dan keceriaan di lingkungan kerja ibunya. Gadis cilik berusia delapan tahun ini tak pernah rewel bila mengikuti sang bunda bekerja. Malah sebaliknya, bila libur sekolah tiba, ia tak sabar meminta ibunya agar diajak ke keraton. Rupanya bocah ini sangat menikmati suasana keraton yang tenang dan menyenangkan.

Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta

img_RNPb1G5.jpg
Senin, 02 April 2018 admin

Kasultanan Yogyakarta merupakan kerajaan yang meneruskan gaya pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Salah satu ciri utamanya adalah keberadaan patih atau juga dikenal sebagai Pepatih Dalem, sebuah jabatan kerajaan setingkat perdana menteri. Patih Kesultanan Yogyakarta memakai gelar Danureja dan berkedudukan di sebuah wilayah yang disebut Kepatihan.

Kasultanan Yogyakarta berdiri berdasarkan Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Oleh karenanya Kasultanan Yogyakarta pun meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Kerajaan Mataram sebelumnya. Sebelum dikukuhkan sebagai raja, Sultan harus menandatangani kontrak politik dengan pihak pemerintah kolonial. Salah satu bagian dari kontrak tersebut mengatur keberadaan patih. Selain sebagai pembantu Sultan, Pepatih Dalem juga menjalankan fungsi sebagai penghubung kesultanan dengan pihak pemerintah kolonial.

Nyi KRT Hamong Tedjonegoro, Tekun Menjaga Tradisi

img_e683y6c.jpg
Senin, 26 Maret 2018 admin

Keraton Yogyakarta sebagai pusat tradisi, administrasi, sekaligus kediaman Sultan memerlukan pengelolaan rumah tangga yang tidak sederhana. Setiap kegiatan, baik kegiatan sehari-hari maupun upacara yang bersifat ritual memiliki aturan yang tak boleh diabaikan. Setiap hal mulai dari sesajen hingga penyajian makanan dan minuman sehari-hari harus dilakukan dengan tata cara yang tepat.

Nyi Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hamong Tedjonegoro, atau lebih akrab disapa Bu Kanjeng, adalah salah satu figur penting di balik kelangsungan tradisi tersebut. Ia adalah Pengageng Kalih Keparak Para Gusti, semacam kepala bagian rumah tangga tertinggi di keraton yang berada di bawah Kawedanan Keputren (urusan keputrian) yang dikepalai langsung oleh Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri tertua Sultan.

Sejarah Dokumentasi Visual Keraton Yogyakarta

img_5hfJBNX.jpg
Senin, 05 Maret 2018 admin

Dokumentasi visual mengenai keraton yang pertama diketahui berasal seorang prajurit penembak VOC bernama Johannes Rach. Johannes Rach merupakan pelukis kelahiran Denmark yang kemudian pindah ke Belanda. Pada tahun 1762 ia mulai bekerja sebagai prajurit karena mengalami kesulitan keuangan. Rach kemudian dikirim ke Asia. Di Jawa, Rach menghasilkan banyak gambar. Salah satunya gambar yang memperlihatkan Keraton Yogyakarta dari arah Alun-Alun Utara, sekitar tahun 1771. Rach tidak sendiri, ia memiliki beberapa murid yang memiliki gaya gambar serupa. Hasil kerja Rach dan beberapa muridnya ini menjadi sumber informasi penting tentang suasana Indonesia pada pertengahan abad 18. Rach melakukan ini dengan tujuan menjual karya-karyanya.

KRT Widyawinata, Penjaga Kekayaan Pengetahuan Keraton

img_nf6DOkT.jpg
Senin, 26 Februari 2018 admin

Kapustakan atau perpustakan merupakan salah satu kelengkapan utama keraton dalam menjaga kekayaan pengetahuan dan budaya. KRT Widyawinata merupakan salah satu penjaga kelestarian itu. Ditugaskan sebagai Abdi Dalem Kapustakaan Kridamardhawa, ia menerimanya sebagai suratan takdir yang telah digariskan. Selain memiliki ayah dan kakek Abdi Dalem, beberapa pertanda yang ia alami meneguhkan keyakinan tersebut.

Lahir 27 Juli 1952, ia diberi nama Sutarno. Setelah ia periksa dalam kamus bahasa Kawi, ia ketahui namanya berarti “anak yang punya kelebihan.” Ia dipermandikan dengan nama Antonius. Nama tersebut ia pandang sebagai pertanda karena Antonius digambarkan sebagai santo yang memegang buku dan memancarkan sinar.

RM Pramutomo

img_W5qASoE.jpg
Senin, 29 Januari 2018 admin

Mengabdi pada keraton merupakan panggilan hati. Tak heran, para pengabdi ini datang dari berbagai latar belakang kondisi dan profesi. Salah satu yang terpanggil untuk mengabdikan diri adalah RM Pramutomo. Pria kelahiran tahun 1968 ini adalah penari, dosen dengan gelar doktor, dan penulis buku dengan berbagai jabatan di sana sini.

Takhta Yogyakarta dan Gelombang Zaman

img_AB8LkqL.jpg
Senin, 06 November 2017 admin

Kesultanan Yogyakarta telah mengarungi pasang surut gelombang zaman selama lebih dari dua setengah abad. Yogyakarta lahir di masa kekuasaan VOC. Jatuh bangun dalam kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, Perancis, dan Inggris. Bertahan di masa pendudukan Jepang. Bergabung sekaligus menyelamatkan Republik Indonesia. Kemampuan Kesultanan Yogyakarta untuk senantiasa menjaga kedaulatan politiknya sekaligus mengembangkan kebudayaan Jawa tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para Sultan yang bertakhta.

TATA PEMERINTAHAN